Senin, Januari 14, 2013

Penjual Kacang dan Sebuah Syukur (3)



Waduh, nggih setengah jam male! Kenopo, Mbak? (waduh, ya setengah jam lagi! Kenapa, Mbak?)?”
“Kok suwi nggih, Pak (kok lama ya, Pak?)?” tanyaku sambil melipat dahi.
“Ya, mau bagaimana lagi, Mbak,” jawabnya medhok dengan raut sedemikian rupa, seolah pasrah. “lha wong, memang aturane koyok ngunu, Mbak. Saben bis sing nyampe kene, kudu meneng barang setengah jam utowo rongpuluh menit, sampe bis liyane teko (memang aturannya seperti itu. tiap bis yang sampai di sini, memang wajib berhenti selama setengah jam atau dua puluh menit, sampai bis selanjutnya datang)!” jelas pak sopirnya.
Mbak e badhe dateng pundi, tho (Mbaknya mau kemana, sih)?” tanya seseorang yang duduk di samping pak sopir.
“Ambarawa,” jawabku singkat.
Oalah, yo sami, Mbak. Kulo nggih penumpang, kok. Lawas malah. Sabar wae (Oalah, sama, Mbak. Saya juga penumpang, kok. Malahan sudah lama. Sabar saja)!” ucapnya, yang ternyata juga penumpang di bis yang kunaiki.
“Saya takut kemalaman saja, Pak. Kan, saya tidak tahu kurang berapa jam lagi,” ucapku tidak kalah dalam berakting menunjukkan sikap cemas.
Ndak apa-apa, Mbak. Tidak akan kemalaman, kok. Sini Ambarawa hanya tinggal satu jam-an. Nanti, kalau tidak di jemput biar bapak carikan ojek atau angkutan umum. Tinggal mbak-nya kasih tahu dimana alamatnya,” jawab si bapak.
Mbak e lek mau mlaku-mlaku rumiyin, monggo (mbak-nya kalau mau jalan-jalan dulu, silahkan). Tidak akan ditinggal, kok!” sahut pak sopir.
“Ya sudah, Pak. Matur nuwun, nggih (terima kasih, ya)!” jawabku disambut dengan anggukkan bapak-bapak itu hampir bersamaan.
Jeda.
Menghela nafas sambil melangkah pergi.
Mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur membayar penuh sampai Ambarawa. Lagi pula, kalaupun harus mencari kendaraan lain, aku tidak tahu mesti naik apa dan di mana. Saudara laki-lakiku juga berpesan agar aku turun di terminal Semarang, lalu dia atau anak buahnya akan menjemput di sana.
Pandanganku kembali tersita oleh ibu tua yang duduk di emperan toko. Niat untuk kembali ke dalam bis, sempurna kuurungkan. Langkah kakiku tertarik untuk mendekati perempuan¾ yang kutaksir usianya sekitar enam-puluhan¾yang sedang sibuk dengan sesuatu.
Aku mendekatinya. Perlahan dapa kulihat bahwa dia sedang membungkusi kacang-kacang yang dibawanya dengan kertas majalah bekas. Aku tahu, ibu itu menjajakan kacang rebus. Kepulan uapnya masih nampak, mengisyaratkan bahwa kacang rebus itu baru saja diangkat dari perapian. Mengatakan dalam kepulan itu bahwa ‘dia’ masih hangat¾kalau panas terlalu ekstrem.
Aku lalu jongkok di sebelahnya. Sejenak menciptakan diam dan jeda di antara kami. Hanya sepersekian detik, kemudian si ibu sadar ada aku disampingnya.
“Kacang Godhog, Nak? (Kacang rebus, Nak)?” tanyanya dengan suara lirih, namun terdengar kuat.
“Ehm, inggih, Bu. Pinten sebungkus (ehm, iya, Bu. Berapa sebungkus)?” ucapku balik bertanya.
Sakarepe, Mbak e. Setunggal ewu saget, kale ewu nggih pareng (Terserah mbaknya. Seribu bisa, dua ribu juga boleh),” jawabnya sambil menyunggingkan senyum. Santun sekali. Padahal yang diajak bicara jauh lebih muda dari pada dia.
Sing kale ewu mawon, Bu. Gangsal bungkus (yang dua ribu saja, Bu. Lima bungkus)!” ucapku cepat, tanpa tahu untuk siapa saja lima bungkus kacang rebus ini nanti. Si ibu mulai membungkusi kacang pesananku.
Diam.
Tidak ada yang bersuara.
Si ibu konsentrasi membungkusi kacang rebus. Aku konsentrasi memperhatikan wajahnya.
Udara di sini cukup segar setelah diguyur hujan. Namun, kulihat ada beberapa butir peluh di kening ibu ini. Jadi ingin bertanya, seberapa jauh kau sudah berjalan membawa beban ini, Wahai Ibu penjual Kacang Rebus?
“Ini, Nak!” ucapnya membuyarkan kekhusyu’anku yang tengah melihat raut wajahnya.
“Oh, eh... iya, Bu. Terima kasih,” jawabku sedikit kaget sambil merogoh uang di kantong celanaku. “Ini ya, Bu!” lanjutku sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu.
“Aduh, mboten enten susuk e. Mbak e iki sing tumbas pertama (Aduh, tidak ada kembaliannya. Mbak adalah pembeli pertama),” ucapnya sedikit gugup karena tidak memiliki kembalian.
“Kalau begitu, Ibu buatkan saja lima bungkus lagi,” jawabku santai.
Hah? Gangsal bungkus male? Guyon a mbak iki? Mangke sinten sing maem (hah? Lima bungkus lagi? Bercanda Mbak ini? Nanti siapa yang makan)?” kata Ibu penjual Kacang sambil membelalakkan matanya yang hampir redup, tidak percaya. Aku sendiri tidak percaya. Kacang sepuluh bungkus ini nantinya akan dimakan siapa, ya? Tapi aku tidak terlalu peduli. Pasti banyak orang yang suka dengan kacang rebus. Dan kalau diberi gratisan, mereka tidak mungkin menolak. Yang penting, ibu ini sudah ada pembelinya.
“Tenang saja, Bu. Nanti, kan bisa dijadikan oleh-oleh,” ucapku sambil tersenyum. “Sudah, dibungkuskan saja, Bu. Saya serius, kok!” lanjutku.
Sambil membungkus setelah mengucapkan terima kasih, aku mendengarnya mengucapkan sesuatu dengan lirih. Sebuah kalimat yang jarang sekali aku ucapkan meski sudah begitu banyak hal-hal baik yang kudapatkan. Sebuah ucapan sederhana, namun mampu membuatku tertampar karena melupakan Sang Pemberi Nikmat. Ucapan yang dengan buliran air mata tak tampak, diucapkan oleh Ibu Penjual Kacang Rebus di depanku ini. Ucapan itu... Alhamdulillah, Ya Rabb!
Ibu itu kembali memberikan lima conthong kacang rebus padaku dengan tidak lupa untuk tersenyum. Ukuran sebungkus kacang rebus ini memang di sebut conthong. Bukan ukuran SI memang. Itu hanya sebuah kertas yang dibentuk seperti kerucut. Tentu saja, kertas itu seukuran majalah atau kertas koran yang di sobek menjadi empat. Mungkin sebagian penjual sudah menggunakan timbangan, tapi tidak sedikit juga yang menggunakan conthong. Ibu dihadapanku ini salah satunya. Dan aku tidak terlalu mempermasalahkannya, meski Kemetrologian yang berhubungan dengan timbang-menimbang adalah suatu bidang yang kukerjakan di kantor.
Aku menerimanya sambil mengucap terima kasih. Kulihat jam tanganku, kemudian beralih melihat sopir yang ada di warung kopi dan kondektur yang masih setia berteriak. Sepertinya belum ada tanda-tanda akan berangkat.
Aku memutuskan untuk berdiam saja di samping ibu ini sambil membuka satu bungkus kacang rebusnya. Mulai melahap sambil bertanya beberapa hal pada si ibu, seolah sedang menginterogasi pedagang di pasar. Seperti kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kantor.
Aku tidak lagi jongkok, melainkan duduk bersila di dekat ibu tadi¾meskipun si ibu sudah melarangku karena kotor. Kubilang saja, daripada jongkok, malah ambeien nanti. Beliau tertawa, mempertontonkan giginya yang tak lagi lengkap.
Dan mulailah cerita beliau.
Namanya adalah Suratni. Usianya... dia tidak tahu. Tapi dia bilang, ketika proklamasi kemerdekaan tanggal Tujuh-Belas Agustus Seribu-Sembilan-Ratus-Empat-Puluh-Lima, usianya baru tiga tahun. Artinya, beliau lahir tahun 1942. Artinya lagi, usianya saat ini¾tahun 2011¾adalah Enam-Puluh-Sembilan. Lebih sembilan tahun dari perkiraanku tadi. Dan masih harus bertarung di jalanan demi rupiah yang dia tidak tahu pasti berapa banyak di dapatkan hari itu.
Beliau hanya tinggal sendiri. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Masih ada dua anak perempuan yang keduanya bekerja di tempat membatik di daerah Solo. Hal itu membuat mereka berdua harus kos di Solo. Pulangpun tidak pasti, karena tidak seperti pegawai yang Sabtu atau Minggu libur. Di pembuatan batik, liburnya bisa sewaktu-waktu. Meskipun anak-anaknya sudah bekerja, namun tidak membuat Bu Suratni lantas bergantung pada kedua anaknya¾mengingat upahnya memang tidak seberapa. Biar di tabung saja buat kebutuhan mereka sendiri, kata Bu Suratni. Selama masih kuat mencari nafkah sendiri, tidak akan merepotkan buah hatinya, itu lanjutannya.
Setiap hari Bu Suratni harus berjalan lebih dari tiga kilometer dengan membawa beban berupa kacang rebus di punggungnya. Dan itu bukanlah sesuatu yang ringan untuk orang seusianya. Setiap satu bungkus¾seperti yang sudah dikatakan¾dijual dengan harga seribu atau dua ribu rupiah. Sehari beliau hanya bisa membut paling banyak dua puluh bungkus, mengingat hanya ‘sedikit’ kacang rebus yang bisa diangkutnya. Itupun belum tentu terjual semua.
“Lek rame nggih saget angsal yotro kalih doso ewu sampe tigang doso ewu. Mung lek sepi, nggih angsal gangsal welas ewu sampun Alhamdulillah (kalau rame, ya bisa dapat uang dua puluh ribu sampai tiga puluh ribu. Tapi, kalau sepi, dapat lima belas ribu saja sudah Alhamdulillah),” sahutnya saat aku menanyakan rupiah yang didapat dari berjualan kacang rebus sepanjang hari.
“Cekap damel sedinten-dinten, Bu (cukup untuk sehari-hari, Bu)?” tanyaku.
“Nggih lek masalah cekap mboten cekap niku yaknopo awake dewe. Didamel cekap nggih cekap, didamel mboten cekap... nggih mboten cekap. Nanging, sakniki lek mboten cekap nggih badhe nyuwun sinten? Nggih dianggep mawon tirakat. Sing penting rejeki sing wonten niku dados berkah damel urip kulo. Pun mboten kepingin sing macem-macem. Asal mboten kelepat bersyukur marang Gusti Allah, ben diparingi slamet dunia akhirat (ya, kalau masalah cukup tidak cukup, itu bagaimana kita sendiri. Dibuat cukup, ya cukup, dibuat tidak cukup... ya tidak cukup. Namun, kalaupun tidak cukup, mau minta sama siapa? Anggap saja hidup bertirakat. Yang penting rejeki yang ada itu menjadi berkah untuk hidup saya. Sudah tidak ingin macam-macam. Asal tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah, biar dikasih keselamatan dunia akhirat),” jawabnya dengan sangat sederhana. Tidak ada keluhan dalam intonasi bicaranya. Semua dilakukan tanpa kesah, tanpa menghakimi Sang Maha Pemberi, tanpa penuntutan.
Aku menganga. Terdiam.
Seketika menciptakan kembali jeda. Namun kali ini, tak kutahu berapa menit lamanya.
Aku membayangkan dengan apa yang aku dapat setiap bulan dari pekerjaanku. Tidak perlu mengangkat beban dan berjalan jauh, berpanas-panasan dengan penghasilan tidak tentu, bisa ijin kapan saja asal tugas sudah selesai. Tapi, jarang sekali bisa bersyukur secara istiqomah. Ada saja yang kurang. Rasa kurang dan kecewa untuk sesuatu yang belum kumiliki, membuat aku lupa untuk sesuatu yang sudah kumiliki, yang pantasnya untuk kusyukuri.
Bahkan aku memilih melarikan diri kemari, daripada menyelesaikan masalahku. Menuduh Sang Pengusaha Hidup telah memporakporandakan impianku, tanpa menyadari dan membuka ‘mata’ bahwa Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menjerumuskan ciptaan-Nya. Selalu menginginkan yang terbaik bagi umat-Nya. Dan aku terlambat memahami itu.
Aku sudah berprasangka buruk pada-Nya.
Aku.... mengecewakan-Nya.
Jeda ini kuisi dengan helaan nafas panjang.
“Seumpomo menungso eling lek kabeh sing ono ing dunyo iki kagungane Gusti Allah, sadar  lek mangke podho sedho mboten mbetoh nopo-nopo kecuali amalan kebaikan, ngrasaaken dadi menungso paling beruntung, Insya Allah mboten enten menungso sing mboten bersyukur. Nggarai kabeh menungso mresanine nang dhuwur, thok, dadi nggih ketingale sing dhuwur-dhuwur, mewah-mewah, angel nggayuke (Seandainya  manusia ingat bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, sadar kalau nanti semua yang meninggal tidak membawa apa-apa kecuali amalan kebaikan, merasakan menjadi manusia paling beruntung, Insya Allah tidak ada manusia yang tidak bersyukur. Sebabnya manusia itu melihatnya hanya ke atas saja, jadi yang kelihatan yang tinggi-tinggi, mewah-mewah, susah menggapainya),” kata Bu Suratni sambil menatapku dengan sinar matanya yang lembut, meski kerasnya roda kehidupan sudah menggilasnya¾seakan tahu isi hatiku.
Bu Suratni, mengajarkan bahwa, tidak ada kerja yang sia-sia, seperti halnya tidak ada doa yang sia-sia. Kalau hari ini saya hanya mendapatkan dua ribu-pun, berarti menurut Allah itulah rejeki yang barokah buat saya dan keluarga. Yang penting, saya tidak akan pernah menyerah dan terus berusaha, supaya Allah juga tidak segan melimpahkan rejeki-Nya buat saya dan keluarga. Dan, saya yakin, Allah tidak akan pernah memutus rejeki hamba-Nya yang meminta, nasehatnya kemudian. Bukankah menjadi kata yang sungguh luar biasa dari seorang perempuan renta yang hanya berjualan Kacang Rebus. Dia begitu percaya bahwa Allah, Sang Maha Hidup, tidak akan pernah meninggalkannya, selama dia tidak meninggalkan Allah.
Hari ini, bumi diguyur hujan. Cukup deras untuk melahirkan dingin dan hawa segar. Namun, satu-satunya hal yang membuatku sejuk dan membuka ‘mata’ hari ini bukanlah rintikan sisa hujan, melainkan pandangan teduh dan kata-kata yang keluar dari bibir perempuan renta yang penuh keriput.
“Ayo, Mbak... Arep Budhal iki (Ayo, Mbak... mau berangkat ini)!” teriak pak sopir itu kepadaku. Nyatanya, bapak berperut gendut itu tidak melupakan aku.
“Iya, Pak!” jawabku setengah berteriak sambil bangkit dari duduk bersilaku. “Ibu, matur nuwun sanget, nggih (Ibu, terima kasih banyak, ya)! Hari ini saya mendapatkan pelajaran tentang mensyukuri apa yang Allah kasih buat saya dari Ibu. Terima kasih... Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu selalu. Sampai ketemu lagi, ya,” pamitku sambil memegang tangan Bu Suratni yang sudah dilapisi keriput.
“Sama-sama, Nak. Semoga Allah melindungi Anak juga sampai tujuan, ya!”
Aku setengah berlari naik ke dalam bis yang sudah hampir berjalan. Kembali duduk di tempatku tadi. Kali ini, ada bapak yang tadi ada di warung kopi bersama pak sopir, yang duduk di sampingku.
Dua puluh menit.
Kurang, tidak sampai dua puluh menit.
Aku mendapatkan sesuatu yang berharga melebihi apapun.
Belajar tentang bersyukur.



Sleman, 22 November 2011
Perjalanan menuju Ambarawa,
Dimanapun Ibu berada, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kita bisa bertemu lagi

1 komentar:

  1. kamu sudah mendapatkan motivasi dan kesimpulan itu sebelum perbincangan kita baru-baru ini yah :)
    terima kasih kepada takdir yang mempertemukanmu dengan ibu Suratni,
    *ngelap airmata*

    BalasHapus