Senin, Januari 07, 2013

Antara Lelakiku dan Perempuanku (3)

Sebelumnya dibaca di sini

Lintang menggeleng. “Tidak bisa. Sudah terlambat. Aku sudah menyatakan bersedia menikah dengannya.”
“Meski itu artinya kau terluka? Menikahi lelaki yang tidak kau cintai?”
“Meskipun artinya begitu.”
Perempuan itu berucap lirih, “Kau tahu, pernikahan itu bukan untuk sehari dua hari, tapi untuk selamanya. Kau sanggup hidup bersama dengan orang yang tidak akan pernah kau cintai seumur hidupmu?”
Lintang diam. “Tanyakan pada dirimu sendiri, Lintang! Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Sudah yakinkah kau dengan keputusanmu?” Perempuan itu bertanya seakan Lintang adalah narasumber yang dibutuhkan untuk membuat tesis.
Lintang diam. Dia tidak pernah yakin dengan keputusannya, memang. Karena dia tidak pernah tahu kenapa ibunya menjodohkan dia tiba-tiba, dengan lelaki yang tidak dia kenal−apalagi dia cintai. Setiap dia bertanya, ibunya selalu bilang bahwa cinta akan datang dengan sendirinya, seiring dengan waktu. Kebersamaan dan rasa saling membutuhkan, akan melahirkan lagu indah berjudul cinta.
Ibunya selalu percaya bahwa Lintang akan bisa mencintai lelaki pilihan ibunya. Dan Lintang selalu percaya, bahwa dia tidak akan pernah bisa mencintai lelaki itu. Seperti apapun dia berusaha.
Tapi, Lintang sudah memberikan keputusannya. Dan perempuan itu, hanya bisa menerima dan mendoakan.

Hari yang dinantikan datang juga. Lintang sungguh cantik dengan gaun kebaya putihnya. Sanggul sederhana dihiasi untaian melati, mempercantik penampilannya. Dia melangkah anggun menuju depan penghulu. Duduk santun di sebelah calon suaminya. Menunggu ijab qabul diucapkan.
Dengan bergetar, lelaki itu mengucapkan janji pernikahan di depan penghulu dan beberapa saksi. Ibu Lintang menangis haru. Beberapa sanak saudara mengikuti air matanya.
Lintang juga menangis. Bukan karena haru. Melainkan karena tatapan seseorang di sudut ruangan. Seorang perempuan dengan mengenakan kemeja warna biru laut dan celana kain berwarna hitam. Rambutnya yang panjang terurai indah. Tatapannya nanar. Menembus mempelai perempuan yang baru saja sah menjadi istri seseorang.
Tatapan itu seolah menghakiminya. Lintang tak kuasa melihat. Dia menunduk seraya berbisik dalam kalbunya, berharap bisa tersampaikan pada perempuan di sudut sana.
“Maafkan aku, Kak! Meskipun dia sudah menjadi lelakiku, namun kau tetaplah perempuanku. Aku mencintaimu. Tapi, kau tahu, bahkan Tuhan-pun tak merestui hubungan kita. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai kapanpun.”

End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar