Minggu, Desember 23, 2012

Hari Ibu


Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beriku penerangan
Selembut sutra kasihmu ’kan
Selalu rasa dalam suka dan duka
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Bagaikan embun kau sejukkan
Hati ini dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
(Ibu-Haddad Alwi feat. Farhan)


Ibu itu... ehm... itu, anu... ehm...
Ibu itu... sebentar-sebentar... adalah, ehm....
Ibu, ya? Tentu saja, Ibu adalah..... tik-tok-tik-tok
Hm, pertanyaannya ‘Ibu’, kan? Ya, Ibu adalah......
Sebentar, ibu itu... addduhhhh... ini sudah ada di ujung lidah, tapi kenapa tidak bisa keluar, ya??
Ibu adalah..ehm... adalah... anu... aakhh, apa ya??? *pukul kepala

Aku tak pernah bisa mengartikan sebutan ‘Ibu’. Mama, bunda, umi, bundo, atau sebutan lain dari Ibu. Aku hanya tahu, betapa luar biasa seseorang yang menyandang sebutan Ibu. Betapa mulia seorang perempuan yang di depan namanya tersemat julukan Umi. Betapa indah ketika seorang perempuan dipanggil ‘bunda’

Ibu, melahirkan kita. Mempertaruhkan nyawanya demi seonggok daging yang belum pernah dilihatnya. Yang, mungkin saja lima belas tahun kemudian bayi itu berani menghardiknya.
Ibu, memberikan air susunya selama dua tahun untuk si buah hati. Tak pernah mengeluh, meski itu bisa mengubah bentuk tubuhnya.
Ibu, adalah guru terbaik kita. Pendidikan pertama kita adalah darinya.

Ibu, adalah manusia pertama yang akan meneteskan air mata ketika kita terjatuh, terluka. Manusia pertama yang akan menangis kecewa ketika kita berbuat salah. Manusia pertama yang akan tersenyum bangga ketika kita meraih sesuatu cita.

Ibu, dengan tubuhnya yang lemah, mampu menggendong kita, seberat apapun tubuh kita. Sedangkan kita, pernahkah menggendongnya walau hanya sekali?
Ibu, merawat kita hingga kita mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Sedangkan kita, pernahkah kita benar-benar merawatnya? Tentu saja, tanpa pamrih?
Seorang Ibu sanggup menjaga anak-anaknya, meskipun jumlah mereka lebih dari satu orang. Sedangkan anak sebanyak itu, bisakah menjaga seorang Ibu?

Ibu itu, serupa rumah, dimana kita bisa pulang kapan saja. Serupa selimut yang menghangatkan malam-malam dingin. Seperti gerimis yang menyejukkan. Seperti senja yang mengindahkan.

Di hari ibu ini, mari kita bertanya pada diri kita, apa yang sudah kita berikan pada Ibu? Perempuan pembawa surga yang padanya Allah menganugerahkan panggilan paling indah.

Selamat hari Ibu, untuk semua perempuan luar biasa di seluruh dunia :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar