Tampilkan postingan dengan label Untuk yg Berarti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk yg Berarti. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 11, 2015

Tingkeban : Upacara 7 bulanan untuk Bumil :*

AHAI..ACTION DULU... SELPIE SELPIE :*

Akhirnya kandungannya masuk usia 7 bulan juga. Sehat-sehat ya dekbay :* 
Eits, maaf maaf, bukan saya yang hamil :D tapi adik ipar saya, hehehe... Ini adalah kehamilan keduanya (semoga saya cepat menyusul untuk menikah dan hami juga. Amin :D) Meskipun sudah 7 bulan tapi perutnya masih kelihatan kecil. Mungkin karena anaknya kurus dan tinggi, ya :D

Meskipun judulnya Tingkeban atau Mitoni atau 7 bulanan, tapi acara yang dilaksanakan hari Minggu kemarin sama sekali tidak mengandung unsur adat jawa. Tentu saja kecuali pada bagian "jualan rujak gobet dan dawet" :)) Kenapa hanya Rujak Gobet dan Dawet yang diikutsertakan? Karena itu yang paling mudah disiapkan. Lagipula sebenarnya acara Mitoni  itu dibarengi dengan acara Anjangsana/kumpul-kumpul dengan para kerabat dan teman-teman dari kantor Bapak. Sehingga yang dilaksanakan 'hanya' mengaji bersama 7 surat (An Nisa', Yusuf, Al-Kahf, Maryam, Luqman, Ar Rahman, Al Waqi'ah) ditambah surat Yassin. Tentu saja tersirat harapan besar dalam do'a-do'a kami agar bayi yang dikandung dapat lahir dengan selamat, sehat, lancar dan dimudahkan. Begitu pula do'a bagi ibunya agar sehat dan dilancarkan proses lahirannya. 



Pengajian untuk mendoakan di dekbay :))


Si kakak yang antusias menyambut adek bayinya :* 


Lantas, sebenarnya Tingkeban itu apa sih? Adat Jawa yang khas dengan rujak gobet dan dawet ini masih banyak dilaksanakan di kalangan masyarakat yang bermukim di pulau Jawa. 

Upacara Tingkeban/Mitoni sendiri adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, dimana kata Mitoni berasal dari kata Pitu yang artinya tujuh. Sesuai dengan namanya, upacara tingkeban/mitoni ini dilaksanakan saat usia kehamilan mencapai tujuh bulan. Dalam acara ini sang ibu yang sedang hamil dimandikan dengan air kembang dan disertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat. 
Menurut tradisi Jawa kental, upacara ini dilaksanakan pada tanggal 7, 17, dan 27 pada penanggalan Jawa, dilaksanakan di kanan atau kiri rumah menghadap ke arah matahari terbit. Yang memandikan-pun harus berjumlah ganjil. Setalah dimandikan, si ibu dipakaikan kain/jarik sampai tujuh kali, dan yang terakhir atau jarik ketujuh dianggap paling pantas dikenakan. Lalu diikuti acara pemotongan tumpeng yang diawali dengan doa. Setelah itu acara yang paling menarik adalah 'Jualan Dawet dan Rujak Gobet'. Jika dulu belinya pakai uang kreweng (tanah liat yang dibentuk bulat dan pipih, mirip uang receh) sekarang sudah banyak yang memakai uang sungguhan. Harganya?? Se-iklasnya yang beli. Bisa 100 perak, 500 perak, 1000 perak, 50.000 atau berapapun yang penting iklas. Kata orang tua sih, uang tersebut digunakan untuk beli jamu buat si ibu :D :D

Terlepas dari itu semua, hakekat dasar dari semua tradisi Jawa adalah sebagai bentuk ungkapan syukur dan permohonan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Segalanya untuk keselamatan dan kedamaian hidup manusia, yang diungkapkan dalam bentuk lambang-lambang yang mempunyai makna masing-masing.

Selamat berusia tujuh bulan dalam kandungan, keponakanku. Sehat terus, ya. Kami tunggu kehadiranmu, Mungil :* :)






Minggu, Desember 29, 2013

11.12.13.14... Rindu Yang Tuntas

2013 lalu. Tapi, karena ada beberapa hal yang lebih urgent, makanya baru bisa posting hari ini.

Tulisan ini kutulis dengan perasaan yang masih meletup. Bahagia. Senang luar biasa. Karena apa??? Cuma ada satu alasannya. Sebuah pertemuan yang ditunggu sejak dua tahun lamanya. Pertemuanku dengan seseorang yang menurutku adalah sosok yang luar biasa. Sabar, tegas, perhatian dan baik hati.

Febry Waliulu. Semua memanggilnya Ebi. Aku.. memanggilnya Si Gerimis. Mengenalnya dua tahun lalu di perantauan benar-benar hal yang kusyukuri. Ebi dan Nadeth itu sama. Sama-sama mengagumkan dan mengajarkan banyak hal tentang (ke)hidup(an) padaku. Enam bulan bersama mereka, disaat jiwa lagi down, sungguh saat-saat yang akan selalu kurindukan. Sama seperti sekarang, dimana aku merindukan kehadiran mereka. Kalau Kak Nadeth, aku sudah bertemu dengannya tahun lalu. Kakiku sudah menginjak Tanah Para Daeng akhir tahun lalu. Harusnya tahun ini aku berangkat ke Bumi Timur, tapi karena sakit kemarin rencana itu jadi terpending. Syukur alhamdulillah, ternyata Ebi-lah yang datang ke Tanah Jawa. Tour de Java, judul perjalanannya bersama sang suami, Bang Litho.

Kota Pahlawan, yang biasanya dikenal dengan hawanya yang panas, hari ini tidak seperti biasa. Aku memang bukan penduduk Surabaya, jadi tidak pernah tahu bagaimana kota ini saat musim penghujan. Hari ini aku merasakannya. Pukul setengah 2 siang, yang seharusnya matahari bersinar terik, malah diganti dengan mendung dan angin yang bertiup. Matahari kayaknya sedang bebas. Aku sudah sampai di Delta Plaza, tempat yang dipilih sebagai titik pertemuan melepaskan rindu.

Tanganku saling menggenggam satu sama lain. Kakiku tak bisa berhenti mengetuk lantai. Bahkan, jangan-jangan kalau tidak pindah tempat bisa lubang lantai itu ^^'. Celingukan melihat tiap sudut. Melihat tiap manusia yang lewat dan berjalan memenuhi mall ini. Belum terlihat wujud si Gerimis. Jam tangan ini terasa bergerak sangat cepat. Aku belum bertemu dengannya, tapi jarumnya sudah menunjukkan pukul dua-kurang-sepuluh menit.

13.55... 13.56... 13.57... 13.58... 13.59...

Mataku tercekat melihat sosoknya di pintu masuk. Langsung aku menghambur memeluknya. Dia agak gemukan dan kulitnya memang lebih hitam dibandingkan terakhir aku bertemu dengannya. Tapi, dia tetap Ebi, si Gerimisku ^^.

14.00

Cantik, kan...
Pertemuan kami.
11.12.13.14
Dan rindu ini akhirnya tuntas.

Tak bisa lagi menuliskan apa yang kami lakukan. Kami hanya menikmati pertemuan dan kebersamaan kami yang singkat namun berharga. Ya, hanya kami yang tahu bagaimana luar biasanya perasaan itu.

Dulu kami berpisah dengan air mata. Bertemu lagi dengan air mata, dan berpisah lagi sekarang dengan air mata. Tapi tenang, karena air mata itu adalah air mata bahagia. Air mata senang. Dan kami yakin, perpisahan kali ini adalah untuk pertemuan selanjutnya. Dan waktunya, semoga tidak lebih lama dari dua tahun. Amin.
miss u sist,... akhirnya bisa peluk, peluk, peluk :*



Our favorit place..
Semoga bisa bertemu kembali secepatnya


Selasa, Desember 10, 2013

Surat Cinta dari Gerimis

Mendapatkan surat balasan dari Ebi, gerimis-kepada-pelangi. yang tertulus cantik di blognya. 
Saat kubaca balasan dari suratmu semalam, Nona, rindu yang terselip, bersembunyi seakan langsung membuncah ketika ingatan itu kembali diobrak-abrik. Berharap dapat kembali menyentuh momen-momen itu. Bahkan aku bersedia menggantinya dengan apapun supaya bisa kembali pada saat itu. 

Sebentar lagi.... Sebentar lagi, Cantik, kita akan bertemu. InsyaAllah. Dan saat itu, rindu ini akan tuntas.


Kamis, Agustus 08, 2013

Selamat Idul Fitri :)


 gambar diambil dari sini

Segala dosa dan penyesalan yang ada di seluruh tubuh, ingin sekali dihapuskan di hari yang fitri ini. Segala khilaf dan salah yang telah terjadi, berharap bisa dimaafkan. Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri 1434 H. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. V^_^p

Selasa, Mei 07, 2013

Bertahan... atau menyerah, Sahabat?

Hari ini aku rindu mengunjungi blog seorang teman. Nama blognya.. ah, sepertinya tidak perlu. Aku mengunjungi blog itu hampir setiap hari. Tapi, beberapa hari ini aku absen. Dan hari ini, aku kembali mengunjungi 'rumahnya' untuk melepas rindu. 

Ada beberapa tulisan yang baru di sana. Saat membacanya, aku seperti menyadari sesuatu. Dia sedang jatuh cinta. Bukan, dia selalu jatuh cinta sejak bertemu dengan pangerannya. Dan semakin aku membaca blognya, lalu mengenalnya, aku tahu dia tidak main-main dengan rasanya. Dia benar-benar mencintai seseorang itu. Bahkan meskipun seseorang yang dia maksud tak pernah tahu. Mungkin tahu, tapi tak mau tahu. 

Aku selalu kagum padanya. Dia, begitu percaya pada Tuhan Sang Maha Mecintai. Saking percayanya, sampai-sampai segala kejadian dia begitu yakin Tuhan yang mengaturnya. Ya, ya, memang begitulah adanya. Dia serahkan semuanya pada Yang Maha Hidup dengan keyakinan penuh. Ada sepenggal episode dalam hidupnya, dimana segalanya terjadi atas permintaannya. Permintaan yang diucapkan dengan sepenuh hati dan kepercayaan tingkat tinggi pada Yang Maha Esa. 

Segala keajaiban dalam dirinya, membuatku belajar untuk lebih percaya dan yakin pada Sang Penulis Skenario. Dia membuatku belajar untuk lebih percaya pada cinta. Percaya bahwa saat kita yakin itu cinta sejati, yang kita butuhkan hanya bertahan. Karena, pada saatnya nanti cinta itu akan kembali datang pada diri kita. Jika belum datang, maka ini belum waktunya. Tunggulah. 

Ya, meskipun terkadang aku lebih mudah menyerah. Lebih mudah menganggap bahwa ketika kita menunggu orang yang tidak mencintai kita, atau bahkan lebih parah, tidak tahu kalau kita mencintainya, maka semuanya akan sia-sia. Tidak ada akhir yang bahagia jika cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menghadapi semua ini? Bagaimana dia dengan senyumnya, menerima segala ketentuan? Tidak pernahkah hatinya menjerit? Karena cinta yang (mungkin) tidak berbalas? Mungkin karena dia yakin, itu bukannya tidak berbalas... hanya saja, belum waktunya. Seperti yang selalu dia bilang, semua ada waktunya.

Hahh.. entah apa yang harus kukatakan padanya tentang cintanya. Haruskah dia menunggu atau bertahan? Meskipun kita tahu, hanya akan ada kecewa di ujung sana. Kau yang tak pernah berhenti berharap, masih kuatkah menunggu ketentuan-Nya? 

Namun ketahuilah, Sahabat, saat kecewa itu menemuimu di ujung sana, maka aku juga akan ada di sana menguatkanmu.



Kamis, April 11, 2013

Selamat Ulang Tahun, Lelaki

Selamat ulang tahun, Lelaki
Genap sudah usiamu menginjak ke-28 tahun. Apa kabar kehidupanmu selama 28 tahun ini? 
Apa yang sudah kau dapatkan selama 28 tahun usiamu? Cinta? Pekerjaan yang mapan? Sahabat? Kehidupan yang layak? Sudahkah kau dapatkan semua? Atau masih ada yang tertinggal? 
Hm, tak banyak yang bisa kupanjatkan untukmu. Kau begitu dekat dengan-Nya. Jadi, kau bisa meminta apapun yang kau inginkan langsung pada-Nya. Dan kau lebih bisa ikhlas dan nrimo saat Sang Maha Berkehendak me-pending mimpi dan cita-citamu.

Aku hanya berdoa, agar kau mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat, bertemu dengan jodoh yang terbaik, dan menjadi manusia yang keren, hahaha. Eh, tapi itu memang doa yang serius dariku. Bukan bercanda, meskipun aku mengakhirinya dengan tawa. Karena aku memang selalu berusaha bercanda denganmu. Ah, rindunya melihat tawamu, Teman. 

Well, sekali lagi aku mengucapkan Selamat Merasakan Hari Lahir Kembali, Lelaki. Selamat menjalani usia yang ke-28 tahun. Selamat menikmati 'kedewasaan'mu yang lebih matang.


Rabu, Maret 27, 2013

Tulisan dari Ebi >> BERNANAH MERINDUMU

Rasa rinduku padanya membuatku selalu meneteskan air mata dalam setiap sujudku. Berharap suatu hari Allah Sang Maha Berkehendak akan segera mempertemukan kami, di bawah langitnya.  Ya Rabb, aku mohon kesempatan untuk segera berjumpa dengannya. Tidak hanya memberinya kekuatan, tapi lebih untuk berbagi rasa dan asa. Karena kekuatan itu sendiri sudah terhujam kuat dalam hatinya. Dan tulisan di bawah ini adalah bukti betapa kuat, ikhlas, dan hebatnya perempuan ini. Dengan membacanya, aku berharap bisa menjadi perempuan sekuat dan setabah dia. Dengan membacanya, aku berharap suatu hari Allah akan mempertemukanku dengan lelaki seperti suaminya. Dengan membacanya, aku berharap Allah mencintaiku seperti Allah mencintainya.

Tulisan di bawah ini adalah curahan hati atas kerinduannya.

Bernanah Merindumu

Anakku sayang,
Apa kabarmu disana? Ummi kangen kamu nak. Mata ini masih saja terus berair bila mengingatmu. Hati ini masih saja seperti teriris setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang bayi dan kehamilan. Ummi kangen kamu nak.

Sayangku,
Ummi bukan tidak ikhlas melepasmu. Bukan seperti itu sayang, jangan sedih ya. Ummi ikhlas melepasmu, apalagi abi-mu sungguh luar biasa hebatnya menyuntik pikiran postif dalam hati dan ppikiran ummi. Tangisan ummi bukan tangisan penyesalan apalagi ketidakikhlasan. Tangisan itu adalah tangisan rindu. Menyuruh ummi berhenti menangis sama saja menyuruh ummi berhenti merindumu. Tidak mungkin, sayang

Kadang ummi bertanya tanya, kenapa kau tak mau berlama lama di perut ummi, lalu ummi lahirkan lalu kita saling membalas senyum. Tapi, ummi tahu kamu tak bisa menjawabnya karena hanya Allah-lah yang tau kenapa kita tak bisa saling membalas senyum dan saling memeluk. Ummi kangen, nak..

Anakku,
Boleh ummi cerita sedikit tentang hari hari ummi tanpamu? Redup rasanya nak. Tapi kau tahu, abi-mu lah pelitanya. Abi-mu lah yang menjadi malaikat dalam hidup ummi. Menjadi pria yang sungguh luar biasa mendampingi ummi. Ummi bangga telah memilih lelaki hebat untuk menjadi ayah dari anak anak ummi kelak, insyaAllah.

Nak,
Ummi tahu, kepergianmu menyisakan sakit dan sesak di hati abi-mu. Tapi ia tak pernah menunjukkannya. Berjam jam setelah mengetahui pergi-mu, ummi yang entah sudah berapa liter airmata yang tumpah, tak melihat air yang sama di wajah abi. Abi berusaha menahan sedihnya di depan ummi. Hingga akhirnya, ummi mendengar air mata pertama abi untukmu tumpah di atas sajadah saat sujudnya. Abi-mu memilih Allah sebagai pendengar tangisan pertamanya. Abi-mu berhasil dampingi ummi melewati saat saat kamu harus ummi lahirkan dengan penuh sabar, tidak tidur tapi juga tidak mengeluh. Betapa hebatnya abi-mu nak.

Sayangku,
Kami berdua merindumu. Setiap hari kami mengunjungi makammu dengan senyum. Kami tak ingin kau melihat kami berderai air mata lagi. Karena kamu sudah senang di sana kan nak? Tak ada alasan kami bersedih disini. Kamu lebih bahagia disana kan? Berlarian di taman surga. Bercanda dengan malaikat malaikat kecil lainnya. Ah, indah sekali. Tunggu kami ya nak. Semoga ummi dan abi bisa mengumpulkan bekal yang buuuuaaaaanyak sekali supaya bisa berkumpul bersamamu di surga.

-------------------------------
Catatan ini aku salin dari blog saudaraku yang luar biasa, Febry Waliulu

Senin, Maret 25, 2013

catatan untuk seorang Ebi

Allah Maha Mengetahui umur seseorang. Sekali lagi aku mengatakannya. Setelah tanggal 5 kemarin aku mendengar seorang teman kehilangan suaminya, belahan hatinya, sekaligus tulang punggungnya, Jum'at kemarin tanggal 22 Maret 2013, aku kembali mendapat kabar dari seorang teman (perempuan lagi) bahwa dia kehilangan janinnya saat janin itu berusia hampir 4 bulan.

Ya Allah, Sungguh Engkau Maha Berkehendak..

Aku ingin bercerita tentang perempuan ini. Namanya Febri Waliulu, Nona Ambon yang kukenal hampir 2 tahun yang lalu. Saat itu aku dan ebi-panggilannya- tengah sama-sama mengikuti sebuah pendidikan beasiswa non gelar dari Kementerian Perindustrian di Puncak Cipanas.
Hotel Lembah Hijau, Ciloto, menjadi saksi kebersamaan kami. Awalnya aku benar-benar tak berminat mengenalnya. Kamarnya yang berada di lantai dua dan jauhnya tempat duduk kami ketika di kelas, tak pernah membuatku membayangkan bahwa dia akan menjadi sosok yang sangat berpengaruh bagiku.  

Lalu, dua bulan disana, barulah kami dekat. Bercerita tentang tempat kelahiran masing-masing. Dan saat perpisahan, sambil berpelukan kami saling mengucap janji bahwa suatu hari kami akan bertemu kembali dibawah langit Allah.

Aku menyesal saat tidak bisa hadir di pernikahannya pada bulan Desember 2011 lalu. Tapi, aku senang bahwa bingkisan dan coretan yang kukirimkan untuknya membuatnya bahagia. Lantunan doa yang kupanjatkan semoga juga kelak mengiringi perjalanannya dengan sang suami.

Ebi sangat menginginkan seorang bayi. Dan begitu tahu dirinya hamil, aku bisa merasakan betapa bahagianya dia.
Aku mau bikin tulisan semacam diary gitu, Vin, yang menceritakan tentang perjalanan kehamilanku. Itu adalah ucapannya saat aku menelpon pada bulan Februari, empat hari sebelum kontrolnya.
 
Tepat hari Jumat pula, sebulan kemudian (bulan ini), aku kembali menelponnya. Bukan lagi dengan senyum merekah, tapi dengan rasa sedih yang menusuk. 
Ebi bercerita, kontrol bulan Maret ini dokter menemukan bahwa janin yang dikandungnya sudah meninggal. Dan ternyata dari diagnosis yang dilakukan, janin itu meninggal selama sebulan. Astaghfirullah, tercekat aku mendengarnya.

Terlebih ketika dalam satu bulan tidak ada perubahan pada tubuh Ebi. Bahkan menurut medis, harusnya janin yang meninggal dan tetap didalam tubuh ibunya dalam waktu yang lama akan menyebabkan keracunan pada ibunya. Tapi, kasus Ebi berbeda. Entah apa yang menyebabkan, tapi tubuh Ebi benar-benar sehat. Tak ada gangguan apa-apa dalam organnya. Sehat, baik-baik saja, itu yang dirasakan Ebi. Karena itu, dia tidak tahu jika janinnya sudah meninggal satu bulan.

Ebi, perempuan luar biasa. Dengan senyuman dia berserah sepenuhnya pada Sang Khalik. Dan aku belajar darimu itu, Saudariku,
Semoga janin itu akan membawamu ke surga Allah. 
Semoga Alla juga segera memberikan penggantinya. 

Amin, amin, amin Ya Rabb.......


Kamis, Januari 03, 2013

the Jailangkung's day

Hai, sahabatku.. Apa kabar di Kota Apel? Sehatkah? Semoga ya...

Eh, ingat kan sekarang tanggal berapa? Benar sekali. Hari ini tanggal 3 Januari. Dan kalian ingat ada apa tanggal 3 Januari? Hm, masa' lupa? Baiklah, aku akan mengingatkannya kembali.

Mari kita merambat ke lorong memori kita... ke delapan tahun lampau.

Tik..tok..tik..tok...

Perlahan... merambat... melangkah....

Dan sampai...

Selamat datang di 3 Januari 2005.
Kamu, kamu, dan aku tengah bersiap di parkiran Kampus. Hari sudah menjelang sore. Syukurlah tidak mendung. 
Kita berbincang lama di tempat parkir itu. Entah untuk apa. Biasanya kita langsung pulang ke kos kan? Atau singgah dulu untuk santap bakso di gang dekat kosan.

Tapi, sore itu tidak. Kita masih ngobrol. Tidak biasa.

Lalu, tetiba mobil itu lewat. Aku masih ingat nomor polisinya. Kalian? Tidak ingat? N 1145 BJ, kan? Sebuah mobil model starlet merah. Tanpa kita pikir panjang, kita bertiga mendadak memutuskan untuk 'membuntutinya'. Entah apa yang kita pikirkan waktu itu. 

Lalu, di jalan pintas itu, bensin kamu habis. Ingat? Lalu kamu menyuruhku untuk jalan duluan. 

Jangan sampai kehilangan, ucapmu. 

Iya, biar kita beli bensin eceran dulu, tambah teman yang satunya.

Aku menurut. Aku tetap membuntutinya. Tak beberapa lama, kalian sudah menyusul. Mobil itu masuk ke sebuah perumahan bagus. Kita ikuti. Lalu, blaaasss......

Mobil itu menghilang. Lamat-lamat, pelan-pelan, kita mencari kemana gerangan mobil starlet merah itu. Di sebuah belokan, karena khawatir ketahuan, kamu memilih turun dari motor. Menyuruh kami nunggu di pertigaan. Kamu berjalan pelan mendekati belokan. 

Pelan-pelan dan waspada. Hingga makin mendekati. Kemudian, dalam hitungan satu... dua... tiga... dan.....

Ketawamu mendadak meledak. Kami heran. Kamu menyuruh kami untuk menghampirimu. 

Jangan-jangan ketahuan, ucapku.

Masa' sih? Ketahuan kok ketawanya sampai begitu? Nggak mungkin, katamu yang masih bersamaku, tak percaya.

Ayo kesana, ajakku. 
Kami menghidupkan motor, dan menghampiri tempatnya. Lalu, begitu kami tahu keadaannya, kami ikut ngakak. Guling-guling sambil pegang perut *Antiklimaks* 
Bagaimana tidak, karena belokan itu ternyata GANG BUNTU. Hahahahaha..

Kita memutuskan untuk pulang saja. Rasanya memang kurang kerjaan sekali ya menguntit orang begini. Jadi, kami mengarahkan motor menuju jalan keluar dari perumahan ini. 

Sungguh, datang tak diundang pulang tak diantar. Tiba-tiba mobil itu keluar dari arah belakang kami. Kontan saja kami kaget. KAMI KETAHUAN!! 
Kamu meng-gas motormu kencang. Hingga polisi tidur kamu lindas. Kamu yang satunya lagi, harus rela diuntang-antingkan di belakang jok motor. Karena posisi kamu dibonceng. 
Tentu saja aku ikut meng-gas motorku. Polisi tidur juga tak luput dari lindasanku. Sejak itu, beberapa hari ke depan, kita enggan lewat gedung mesin. Kamu juga tak pernah lagi memakai Jaket warna pink-mu, kan? Karena itu kau gunakan saat kita main detektif-detektifan.

Hahaha, 3 Januari, delapan tahun yang lalu. Menakjubkan, kan? Kita mengejar seorang Kampret, nama panggilannya. Dan aku akan selalu mengingatnya. :D

Well, Happy The Jailangkung's Day, Sist.... :))

Minggu, Desember 23, 2012

Hari Ibu


Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beriku penerangan
Selembut sutra kasihmu ’kan
Selalu rasa dalam suka dan duka
Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Bagaikan embun kau sejukkan
Hati ini dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti
Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
(Ibu-Haddad Alwi feat. Farhan)


Ibu itu... ehm... itu, anu... ehm...
Ibu itu... sebentar-sebentar... adalah, ehm....
Ibu, ya? Tentu saja, Ibu adalah..... tik-tok-tik-tok
Hm, pertanyaannya ‘Ibu’, kan? Ya, Ibu adalah......
Sebentar, ibu itu... addduhhhh... ini sudah ada di ujung lidah, tapi kenapa tidak bisa keluar, ya??
Ibu adalah..ehm... adalah... anu... aakhh, apa ya??? *pukul kepala

Aku tak pernah bisa mengartikan sebutan ‘Ibu’. Mama, bunda, umi, bundo, atau sebutan lain dari Ibu. Aku hanya tahu, betapa luar biasa seseorang yang menyandang sebutan Ibu. Betapa mulia seorang perempuan yang di depan namanya tersemat julukan Umi. Betapa indah ketika seorang perempuan dipanggil ‘bunda’

Ibu, melahirkan kita. Mempertaruhkan nyawanya demi seonggok daging yang belum pernah dilihatnya. Yang, mungkin saja lima belas tahun kemudian bayi itu berani menghardiknya.
Ibu, memberikan air susunya selama dua tahun untuk si buah hati. Tak pernah mengeluh, meski itu bisa mengubah bentuk tubuhnya.
Ibu, adalah guru terbaik kita. Pendidikan pertama kita adalah darinya.

Ibu, adalah manusia pertama yang akan meneteskan air mata ketika kita terjatuh, terluka. Manusia pertama yang akan menangis kecewa ketika kita berbuat salah. Manusia pertama yang akan tersenyum bangga ketika kita meraih sesuatu cita.

Ibu, dengan tubuhnya yang lemah, mampu menggendong kita, seberat apapun tubuh kita. Sedangkan kita, pernahkah menggendongnya walau hanya sekali?
Ibu, merawat kita hingga kita mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Sedangkan kita, pernahkah kita benar-benar merawatnya? Tentu saja, tanpa pamrih?
Seorang Ibu sanggup menjaga anak-anaknya, meskipun jumlah mereka lebih dari satu orang. Sedangkan anak sebanyak itu, bisakah menjaga seorang Ibu?

Ibu itu, serupa rumah, dimana kita bisa pulang kapan saja. Serupa selimut yang menghangatkan malam-malam dingin. Seperti gerimis yang menyejukkan. Seperti senja yang mengindahkan.

Di hari ibu ini, mari kita bertanya pada diri kita, apa yang sudah kita berikan pada Ibu? Perempuan pembawa surga yang padanya Allah menganugerahkan panggilan paling indah.

Selamat hari Ibu, untuk semua perempuan luar biasa di seluruh dunia :))

Kamis, Juli 26, 2012

Hari Ini, Setahun Lalu, Kita Berpisah

Hari ini tepat setahun yang lalu perpisahan kami. Pukul delapan pagi, kami dikumpulkan dengan perasaan tak menentu di sebuah ruangan gedung yang besar. Perasaan yang berbeda meski sama tak menentunya dengan lima bulan sebelumnya. Kalau lima bulan sebelumnya, perasaan itu lebih karena memasuki dunia dan suasana baru. Sekarang perasaan itu lebih berarti bahwa aku akan keluar dari dunia dan suasana yang selama lima bulan ini sudah membantu 'pertumbuhan'ku.
Akan banyak nama yang tinggal dan menetap diruang hati ini, sebagai bagian dari proses suatu pendewasaan. Dan aku yakin, nama itu sebagian akan menetap selamanya. 
Febry Waliulu, perempuan sahaja nan luar biasa, adalah nama pertama yang kusebut, yang namanya bisa aku jamin tak akan pernah aku lupakan. Dia, membantuku menghapus sebagian sifat burukku, selalu berbagi tawa dan ucapan yang menyejukkan. Aku ingat ketika kita jalan-jalan ke pasar Cipanas, cuma untuk cari suasana baru, setelah seminggu bertatap muka dengan pelajaran. Aku ingat ketika hari ulang tahunku yang ke-26, kamu ikutan menyiram tepung, telur, dan air. Bukan dengan jengkel, melainkan dengan rasa sayang yang sangat. Dan aku merasakannya. Aku ingat ketika minggu-minggu terakhir, kita sering main kartu UNO. Dengan tawa, yang saking semangatnya, sampai membahana di lorong lantai dua.  Eby, aku merindukan itu. Kapan bisa kayak gitu lagi, ya? ^_*
Niskha Sandriana, perempuan cerdas yang bijak. Teman sekamar yang namanya sudah terpaten dalam hatiku.  Dia tak pernah marah meski aku sangat cerewet dan kadang menunjukkan rasa kesal padanya. Dia tetap bijak, seolah dia memang tahu, bahwa dia tengah menghadapi anak kecil yang berjiwa labil. Mungkin karena dia sudah mempunyai buntut 3 orang ya?? Hahaha. Aku sangat merindukannya. Aku ingat saat dia menelpon anak-anak dan suaminya, betapa keibuannya yang luar biasa membuatku iri dan cemburu. Aku ingat ketika dia mengajariku tentang pelajaran-pelajaran di tempat itu dengan sangat sabar. Membantuku juga 'sembuh' dari penyakit masa lalu, beradaptasi dengan tempat yang baru. Really, i miss her so much....^^

Bang Ben, seorang yang awalnya tidak kusukai karena sifatnya yang terlalu seenaknya sendiri dengan kepedean tingkat tinggi, namun berbalik menjadi orang yang paling kusukai sata aku sudah mengenalnya dan menghabiskan waktu banyak bersamanya sepeninggal Nadeth birana. Aku ingat setiap ceritanya tentang Cece-istrinya, dan harapannya untuk segera mempunyai momongan. Aku selalu mendoakan itu, bang. Aku ingat kita selalu cari lalapan di cipanas, meski jaraknya tidak dekat dari lembah hijau. Aku ingat kita makan di saung, pas gerimis, setelah beli lalapan dan minta nasi di resto hotel. Aku ingat, hari terakhir, bang ben selalu menemaniku.

Masih banyak nama yang tak mungkin tersebut di sini. Terlalu panjang untuk menjabarkannya. Ada bang Zap, lelaki dewasa yang membuatku merasa nyaman bagai anaknya. Omongannya juga selalu lucu disertai tingkah polahnya yang kadang nggak masuk akal, hahaha. Bang Allone, seorang kakak laki-laki bagiku. Hubungan intimnya dengan komputer, atau benda elektronik lainnya, membuat dia menjadi tempat bagiku untuk belajar masalah komputer. Dia sering juga menemaniku kemanapun aku mau. Selalu membuatku santai dengan sifat santainya. Bang Tewe, kesabarannya yang selalu meau mendengarkan keluh kesahku, curhatku yang nggak jelas, dan tiada henti memberiku nasehat.

Subhanallah, ketika aku mengingat semua itu, air mata selalu menetes, menghamba dan mengharap dapat bertemu lagi dengan orang-orang yang luar biasa itu. Ya, niat yang tulus, disertai keyakinan bahwa apapun bisa terjadi, InsyaAllah Allah akan memudahkan jalannya. Membantu mempertemukan silahturahmi itu suatu hari nanti.

Semoga secepatnya kita bisa bertemu, saudaraku.

Rabu, Juli 18, 2012

Kado untuk Acha, Senja yang Cantik

Hmmmm, ketukan pensil di meja... ketukan jari yang tak jelas di atas keyboard. Keduanya menunggu satu cerita datang agar bisa ditulis. Cerita yang mengungkapmu, mendefinisikan dirimu... cerita yang, ehmm... berbicara tentangmu.
Senja... hm, selalu seperti ini saat harus menjelaskan apa engkau sebenarnya. Bingung. Karena kadang tak ada kata dalam kamus yang bisa kugunakan untukmu. Terlalu indah. Hamparan permadani merahnya di sore hari karena leburan sinar mentari selalu memukau setiap mata memandang. Seperti ada lautan di atas sana.
Aku mengatakan kau sama dengan sebuah Senja. Mengaggumkan. Meski selalu ada kelemahan dalam dirimu. Karena tak ada manusia yang sempurna. Tapi, kebijakan yang ada, membuatmu mampu menundukkan diri untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang kau perbuat, sebagai manusia.
Kenanganku berkeliaran pada setahun yang lampau. Ketika di suatu malam, saat aku memutuskan untuk bertemu dengan seorang perempuan yang juga sama luar biasanya, aku dipertemukan dengan mu, wahai Senja. Tanggal 24 Juli 2011, pertama kalinya kita meneguk kopi bersama di sebuah tempat, yang mungkin suatu hari akan kita datangi lagi.
Meskipun hanya sehari, oh, bukan... kurang dari sehari malah, hanya beberapa jam saja kita berbincang dan saling mengenal, namun aku merasakan bahwa hatiku dan diriku sudah tak sama lagi karena kehadiranmu. Mendapatkan saudara sepertimu yang bisa membuat tersenyum. Namun laiknya manusia biasa, kamupun punya rasa jengkel, ngambek dan marah. Tapi, kau tetap mampu menahannya. Setengah darah Ambon yang kau miliki, menciptakanmu menjadi pribadi yang tangguh, manis, dan kadang keras kepala. Sisa darahmu yang berjudul Jawa, memberikan karakter lain yang bertolakbelakang namun serasi denganmu.
Persahabatan dan persaudaraan denganmu semakin istimewa ketika kau datang ke Surabaya. Tak terkira hatiku rasanya mendengar bahwa kau akan datang pada saat weekend. Tanpa berpikir lagi, akupun menghampirimu, meski harus menempuh hampir enam jam perjalanan. Bagiku itu sepadan. Dan satu mimpiku, telah berwujud nyata. Dari mimpi itu, lahirlah mimpi yang lain. Janji akan bertemu lagi di tanah Ambon, atau mungkin travelling bersama. Aku harap Allah Sang Maha Penentu Hidup akan mewujudkannya satu demi satu.
Kau senja yang cantik. Kau senja yang tangguh. Kau senja Keriting yang luar biasa, hahaha. Si Hitam Manis yang mempesona. Tetaplah merekah dengan keindahan dan kedewasaanmu, Manis. Tetaplah hadir sebagai hal paling indah di akhir hari, saat sore pamit pulang dan malam mulai mengetuk.
Jika gerimis terjadi saat senja adalah hal yang indah, karena kalian menjadi satu, maka pelangi (berharap) akan melengkapi keindahan setiap petang.
Selamat Ulang Tahun, Cantik. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagimu, dunia dan akhirat. 

 
*Ditulis untuk Anastasia Tomasouw (Acha) sebagai hadiah ulang tahunnya. Meski terlambat, semoga bisa membuatmu mencipta lengkung di bibir indahmu, ya.

Selasa, Juni 12, 2012

Wanita melamar Pria??

Menawarkan diri pada lelaki yang pasti; pasti agamanya, pasti kualitas akhlaknya. Walau yang tak pasti cuma satu, diterima atau tidak. Dan andai ditolak pun sebenarnya bukanlah kehinaan, hanya ladang kesabaran yang niscaya menumbuhkan pahala. Daripada menunggu yang tak pasti; tak pasti agamanya, tak pasti akhlaknya. Bahkan juga tak pasti pula datangnya.

Apakah salah bila seorang wanita muslimah menawarkan dirinya pada seorang lelaki shalih? Padahal menikah merupakan ibadah setengah dîn (agama).

Contoh yang Telah Berlalu :
Sebenarnya kejadian seperti ini juga pernah terjadi di zaman Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana hadits dari Anas Radhiyallâhu ‘Anhu, dia berkata“Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan menawarkan diri kepadanya, dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berhajat kepadaku?” Lalu ketika menceritakan hadits ini, maka anak perempuan Anas Radhiyallâhu ‘Anhu mengatakan, “Sungguh sedikit malu perempuan itu dan buruk akhlaknya.” Lalu dijawab oleh Anas Radhiyallâhu ‘Anhu, “Sesungguhnya dia itu (perempuan yang menawar diri) lebih mulia dan baik darimu karena dia mencintai Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan menawar dirinya demi kebaikan.” (HR. al-Bukhâriy).

Dalam riwayat lain, Sahal bin Sa’ad mengatakan bahwa seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu.” Tatkala wanita itu melihat Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak memutuskan sesuatu terhadap tawarannya itu, lantas dia duduk. (HR. al-Bukhâriy dan Muslim)

Hadits di atas tidak dikhususkan kepada Rasul saja, bahkan bisa menjadi contoh teladan kepada semua wanita muslimah dan mereka diperbolehkan menawarkan diri kepada lelaki shalih agar menikahinya, tentunya selama tidak akan menimbulkan fitnah tersendiri dan dengan cara-cara yang terpuji. Dan apa yang terjadi kepada Rasul, selama tidak dikhususkan, maka menjadi perbuatan sunnah yang umum.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. al-Ahzâb: 21)

Al-Bukhâriy mengemukakan hadits ini dalam bab seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih, seorang wanita diperbolehkan menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih karena tertarik oleh keshalihannya. Maka hal itu diperbolehkan.”

Sementara al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits mengenai seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam itu dapat diambil kesimpulan, bahwa seorang wanita yang ingin menikah dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya bukanlah merupakan aib sama sekali. Apalagi kalau tujuannya baik dan maksudnya benar. Boleh jadi karena kelebihan agama laki-laki yang mau dilamar atau karena keinginan dan hawa nafsu yang apabila didiamkan saja dikhawatirkan dia bisa terjebak ke dalam sesuatu yang dilarang agama.”

Kemudian Ibnu Daqiq al-’ÃŽd berkata juga, “Hadits tersebut bisa dijadikan dalil mengenai bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya kepada seseorang yang diharapkan keberkahannya.”

Berkata Ibn Hisyam Rahimahullâh dalam mengisahkan teladan Khadijah Radhiyallâhu ‘Anhâ dalam menawarkan dirinya kepada Rasulullah dengan mengutus perantara (orang tengah) untuk menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah dengan menyampaikan pesanan Khadijah Radhiyallâhu ‘Anhâ, “Wahai anak saudara pamanku, sesungguhnya aku telah tertarik kepadamu dalam kekeluargaanmu, sikap amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan benarnya kata-katamu.” (Tarikh Ibn Hisyam: 1/122)

Bisa Juga Oleh Walinya 
Memang bisa juga dengan perantara walinya, mungkin saudaranya yang laki-laki atau perempuan, juga bisa orang tuanya yang langsung menawarkan. Sebagaimana cerita tentang nabi Shalih yang ditawari Syu’aib akan anak-anaknya yang perempuan,

“Berkatalah dia (Syu’aib), “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.”” (QS. al-Qashshash: 27)
Sumber Link:Lentera Langit

Cinta Terkembang Jadi Kata

-->
Sumber Oleh Anis Matta
Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata yang sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai dilaut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta, ada puisi cinta, ada lagu, semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain dari kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung... tiba-tiba semua wujud itu punya arti... tiba-tiba semua wujud itu masuk kedalam kesadaran kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dalam hidup kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita... tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair... atau setidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair yang berbakat... tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut... maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut... hanya katalah yang dapat menguranginya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita. Puisi “Aku ingin” nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurangi dan menjamah makna-makna itu... apakah Sapardi sedang jatuh cinta atau sedang ingin memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Kamis, September 22, 2011

Aku bukan untukmu

Ada sebuah lagu yang tidak sengaja kudengar dari winamp komputer sebelah. Mungkin karena volume-nya terlalu keras hingga terdengar dari ruanganku. Rossa dengan "Aku bukan untukmu"

dahulu kau mencintaiku
dahulu kau menginginkanku
meskipun tak pernah ada celaku
tak berniat kau meninggalkan aku
* sekarang kau pergi menjauh
  sekarang kau tinggalkan aku
  di saat ku mulai mengharapkanmu
  dan ku mohon maafkan aku
reff: aku menyesal tlah membuatmu menangis
dan biarkan memilih yang lain
tapi jangan pernah kau dustai takdirmu
pasti itu terbaik untukmu
janganlah lagi kau mengingatku kembali
aku bukanlah untukmu
meski ku memohon dan meminta hatimu
jangan pernah tinggalkan dirinya
untuk diriku
repeat *
Entah apa yang sebenarnya lalu kupikirkan. Aku bukan untukmu... atau... kau bukan untukku?
Meski kenyataannya sekarang kau sudah ada yang lain, tapi aku ikut andil dalam menciptakan keadaan itu. Ya, kau memilih yang lain karena aku 'meninggalkanmu'.
Rasa sakit yang kau rasakan mungkin tak terbayangkan. Bahkan, kata maafkupun tak bisa kau terima. Tapi, itulah yang sekarang juga kurasakan. Mungkinkan aku membohongi perasaanku sendiri. Mencintaimu tapi 'tidak ingin mencintaimu'.
Katakan apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?
Jangan menjawabnya tanpa kata. Karena, aku tidak bisa mendengar isi hatimu.

Kamis, September 15, 2011

Moluccas

Ambon...
Ambon manise...
Moluccas...
Whatever you named it!
Ambon tetop daerah Seribu Pulau
yang berdiri gagah di tengah-tengah antara sirkum pasifik dan sirkum mediteran
bentangan flora dan fauna yang tak terbantahkan keindahannya
tak bisakah semua menjadikan ambon tak bercerai?
Deru peluru menusuk menukik dalam jiwa yang ketakutan
Menyisakan tubuh yang goyah terlunta dan melangkah dengan tertatih
Jalanan kian sepi
Menyisakan ruang kosong untuk teriakan yang tak berujung dan tak berpangkal
Anak kecil tak lagi berani berlari gembira
Tak ada lagi layang-layang yang terbang tinggi menggapai awan
Hanya ada gelap yang kelam
Ambon itu manis... tanpa air mata, tanpa darah, tanpa teror
Kenapa harus ada perang?
Kenapa harus ada permusuhan?
Semua seakan hadirdengan ribuan pertanyaan yang tak pernah terjawab
Aku ingin berlari dan berteriak
Perang, kelahi tak akan mengundang manfaat apa-apa
Semua hanya tentag tangis, cekam, teriakan, kecewa, dan semua yang membalut luka
Adakah dari mereka, yang memegang senjata, mendengarnya?
Adakah dari mereka, yang berbau mesiu, mengerti?
Ataukah semua itu memberi Ambon kesempatan untuk menjadi kuat
Seperti mentari yang akan muncul setelah badai?
Atau, justru membuat Ambon mati?
Generasi muda...
Berkenankah kau menjadi matahari...
Yang akan menyinari bumi Ambon tanpa diminta
Agar damai dan cinta dapat tumbuh dan bertahan di tanahnya
Agar asa dan mimpi dapat berjalan tenang tanpa rasa takut
Agar perang dan tikai dapat terlupakan dan terlewatkan
Terbangkan kembali layang-layangmu
Ke langit tinggi yang jauh di sana ‘tuk sampaikan salam perdamaian di seluruh negeri
Berhembus bersama angin dan awan
Bisikkan rasa kasih kepada mereka, hingga dapat dibuka mata menatap indahnya dunia
Lantunkan kerinduan di tiap hati hingga dapat lahir perasaan saling membutuhkan
Benahi jiwa agar dapat memaknai rasa kebersamaan dan saling menghargai
Seperti sinar matahari yang membakar
Memberi arti bagi kita untuk mensyukuri malam yang mengetuk dengan bintang-bintangnya
Bagai dinginnya malam yang sanggup menggigilkan raga
Membuat kita merindukan kehangatan sang Surya di ufuk timur
dan akhirnya semua kebahagiaan akan menyertai bumi Ambon Manise

Di antara Al-qur'an dan Salib..

Shubuh menyapa...
Fajar yang memerah belum mengetuk pagi
Terdengar lantunan ayat suci Al-qur’an
Terucap indah, membalas sapaan pagi...
Aku melihatnya...
Melalui jendela mataku yang setengah terbuka...
Seorang gadis ber-mukenah putih
Terduduk anggun menatap kitab suci di hadapannya...
Tetes air wudhu yang tersisa di rautnya membuat lentera penerang tak mampu
Menandingi cahaya wajahnya
Aku tidak bisa menjadi seperti dia...
Karena aku Nasrani...
Salib di tanganku...

Pagi menghela...
Meniupkan nafas kehidupan baru...
Memulai episode perjalanan hari ini
Aku mendengar nyanyiannya...
Bersama malaikat-malaikat kecil yang dipanggilnya anak-anak Gereja
Dengan gitar yang terpetik di tangannya..
Dia menggemakan kegemberiaan dan kebaikan
Menyanyikan pujian untuk Tuhannya
Bagai sinar matahari yang menghangatkan... dikelilingi bunga-bunga kecil lengkungan manis diwajahnya, tak ada air mata yang mengalir... semua tersenyum
Injil dihadapannya, dilantunkan dengan tepuk tangan sang anak Gereja
Aku melihatnya dengan senyum... tak bisa melakukan hal yang sama
Karena aku muslim...
Lafadz Al-qur’an adalah nyanyianku...


Jilbab yang tak pernah membiarkannya ‘telanjang’ senantiasa pelindung auratnya..
Salib yang tak pernah tertanggal dari lehernya, menjadi identitas tak bersuaranya...
Al-qur’an adalah petunjuk hidupnya...
Injil adalah penuntunnya...

Dalam sujudmu kau beribadah...
Dalam nyanyian gerejamu kau berdoa..

Kau berbeda denganku..
Aku tak sama denganmu..
Namun, kita bisa bersama... karena kita sahabat... karena kita saudara...

Layaknya burung yang butuh sayapnya agar  dia dapat terbang sempurna...
Bagai ikan yang butuh siripnya hingga mampu mengarungi luasnya samudra...
Seperti bumi yang butuh sinar mataharinya untuk bertahan...
Aku butuh engkau, sebagai sahabat hingga dapat kujalani hidup dengan sempurna
Aku butuh kau, hingga dapat kupahami arti bersyukur atas hidup & kehidupan
Hingga dapat menghargai perbedaan..
Dan, mengerti perbedaan tentang kebersamaan dan kesendirian..
Mengerti... bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri...