Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 31, 2013

Keajaiban Adzan dan Sholat Shubuh


gambar diambil dari sini


"Ash shalaatu khairun minan naum"

Jika kita terjemahkan, akan berarti "Sholat itu lebih baik daripada tidur". Tetapi coba perhatikan baik baik. Mengapa kalimat itu hanya dikumandangkan saat adzan subuh saja?

Dalam kalimat itu Allah SWT ternyata sedang memberikan isyarat kasih sayangnya pada kaum muslimin, sebuah isyarat yang sering kita abaikan maknanya.

Lalu mengapa isyarat itu justru dikumandangkan hanya pada adzan shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain?


Penjelasan Ilmiahnya:

Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih mendapati sebuah kesimpulan jika puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN).

Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.

Pada tegangan saraf parasimpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.

Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sama lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur.

Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk Anda dan saya maupun bayi Anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian / Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Allah SWT kepada manusia.

Furchgott dan Zawadsky pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diselidikinya (dikerok).

Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu Asetilkolin.

Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin.

Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran.

"Jadi inilah yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, suatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu".

Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan / melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida.

Ketiga peneliti itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.

Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak dan olahraga.

Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi / sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.

Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular.

Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise, yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular, tanpa manusia menyadarinya.

Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejang, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis).

Dengan exercise, tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan saling merangkul.

Sejak awal kedatangan Islam, Allah menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun.

Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasih-Nya pada hamba-Nya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar
 
Artikel disalin dari sini

Rabu, Maret 27, 2013

Tulisan dari Ebi >> BERNANAH MERINDUMU

Rasa rinduku padanya membuatku selalu meneteskan air mata dalam setiap sujudku. Berharap suatu hari Allah Sang Maha Berkehendak akan segera mempertemukan kami, di bawah langitnya.  Ya Rabb, aku mohon kesempatan untuk segera berjumpa dengannya. Tidak hanya memberinya kekuatan, tapi lebih untuk berbagi rasa dan asa. Karena kekuatan itu sendiri sudah terhujam kuat dalam hatinya. Dan tulisan di bawah ini adalah bukti betapa kuat, ikhlas, dan hebatnya perempuan ini. Dengan membacanya, aku berharap bisa menjadi perempuan sekuat dan setabah dia. Dengan membacanya, aku berharap suatu hari Allah akan mempertemukanku dengan lelaki seperti suaminya. Dengan membacanya, aku berharap Allah mencintaiku seperti Allah mencintainya.

Tulisan di bawah ini adalah curahan hati atas kerinduannya.

Bernanah Merindumu

Anakku sayang,
Apa kabarmu disana? Ummi kangen kamu nak. Mata ini masih saja terus berair bila mengingatmu. Hati ini masih saja seperti teriris setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang bayi dan kehamilan. Ummi kangen kamu nak.

Sayangku,
Ummi bukan tidak ikhlas melepasmu. Bukan seperti itu sayang, jangan sedih ya. Ummi ikhlas melepasmu, apalagi abi-mu sungguh luar biasa hebatnya menyuntik pikiran postif dalam hati dan ppikiran ummi. Tangisan ummi bukan tangisan penyesalan apalagi ketidakikhlasan. Tangisan itu adalah tangisan rindu. Menyuruh ummi berhenti menangis sama saja menyuruh ummi berhenti merindumu. Tidak mungkin, sayang

Kadang ummi bertanya tanya, kenapa kau tak mau berlama lama di perut ummi, lalu ummi lahirkan lalu kita saling membalas senyum. Tapi, ummi tahu kamu tak bisa menjawabnya karena hanya Allah-lah yang tau kenapa kita tak bisa saling membalas senyum dan saling memeluk. Ummi kangen, nak..

Anakku,
Boleh ummi cerita sedikit tentang hari hari ummi tanpamu? Redup rasanya nak. Tapi kau tahu, abi-mu lah pelitanya. Abi-mu lah yang menjadi malaikat dalam hidup ummi. Menjadi pria yang sungguh luar biasa mendampingi ummi. Ummi bangga telah memilih lelaki hebat untuk menjadi ayah dari anak anak ummi kelak, insyaAllah.

Nak,
Ummi tahu, kepergianmu menyisakan sakit dan sesak di hati abi-mu. Tapi ia tak pernah menunjukkannya. Berjam jam setelah mengetahui pergi-mu, ummi yang entah sudah berapa liter airmata yang tumpah, tak melihat air yang sama di wajah abi. Abi berusaha menahan sedihnya di depan ummi. Hingga akhirnya, ummi mendengar air mata pertama abi untukmu tumpah di atas sajadah saat sujudnya. Abi-mu memilih Allah sebagai pendengar tangisan pertamanya. Abi-mu berhasil dampingi ummi melewati saat saat kamu harus ummi lahirkan dengan penuh sabar, tidak tidur tapi juga tidak mengeluh. Betapa hebatnya abi-mu nak.

Sayangku,
Kami berdua merindumu. Setiap hari kami mengunjungi makammu dengan senyum. Kami tak ingin kau melihat kami berderai air mata lagi. Karena kamu sudah senang di sana kan nak? Tak ada alasan kami bersedih disini. Kamu lebih bahagia disana kan? Berlarian di taman surga. Bercanda dengan malaikat malaikat kecil lainnya. Ah, indah sekali. Tunggu kami ya nak. Semoga ummi dan abi bisa mengumpulkan bekal yang buuuuaaaaanyak sekali supaya bisa berkumpul bersamamu di surga.

-------------------------------
Catatan ini aku salin dari blog saudaraku yang luar biasa, Febry Waliulu

Senin, Maret 25, 2013

catatan untuk seorang Ebi

Allah Maha Mengetahui umur seseorang. Sekali lagi aku mengatakannya. Setelah tanggal 5 kemarin aku mendengar seorang teman kehilangan suaminya, belahan hatinya, sekaligus tulang punggungnya, Jum'at kemarin tanggal 22 Maret 2013, aku kembali mendapat kabar dari seorang teman (perempuan lagi) bahwa dia kehilangan janinnya saat janin itu berusia hampir 4 bulan.

Ya Allah, Sungguh Engkau Maha Berkehendak..

Aku ingin bercerita tentang perempuan ini. Namanya Febri Waliulu, Nona Ambon yang kukenal hampir 2 tahun yang lalu. Saat itu aku dan ebi-panggilannya- tengah sama-sama mengikuti sebuah pendidikan beasiswa non gelar dari Kementerian Perindustrian di Puncak Cipanas.
Hotel Lembah Hijau, Ciloto, menjadi saksi kebersamaan kami. Awalnya aku benar-benar tak berminat mengenalnya. Kamarnya yang berada di lantai dua dan jauhnya tempat duduk kami ketika di kelas, tak pernah membuatku membayangkan bahwa dia akan menjadi sosok yang sangat berpengaruh bagiku.  

Lalu, dua bulan disana, barulah kami dekat. Bercerita tentang tempat kelahiran masing-masing. Dan saat perpisahan, sambil berpelukan kami saling mengucap janji bahwa suatu hari kami akan bertemu kembali dibawah langit Allah.

Aku menyesal saat tidak bisa hadir di pernikahannya pada bulan Desember 2011 lalu. Tapi, aku senang bahwa bingkisan dan coretan yang kukirimkan untuknya membuatnya bahagia. Lantunan doa yang kupanjatkan semoga juga kelak mengiringi perjalanannya dengan sang suami.

Ebi sangat menginginkan seorang bayi. Dan begitu tahu dirinya hamil, aku bisa merasakan betapa bahagianya dia.
Aku mau bikin tulisan semacam diary gitu, Vin, yang menceritakan tentang perjalanan kehamilanku. Itu adalah ucapannya saat aku menelpon pada bulan Februari, empat hari sebelum kontrolnya.
 
Tepat hari Jumat pula, sebulan kemudian (bulan ini), aku kembali menelponnya. Bukan lagi dengan senyum merekah, tapi dengan rasa sedih yang menusuk. 
Ebi bercerita, kontrol bulan Maret ini dokter menemukan bahwa janin yang dikandungnya sudah meninggal. Dan ternyata dari diagnosis yang dilakukan, janin itu meninggal selama sebulan. Astaghfirullah, tercekat aku mendengarnya.

Terlebih ketika dalam satu bulan tidak ada perubahan pada tubuh Ebi. Bahkan menurut medis, harusnya janin yang meninggal dan tetap didalam tubuh ibunya dalam waktu yang lama akan menyebabkan keracunan pada ibunya. Tapi, kasus Ebi berbeda. Entah apa yang menyebabkan, tapi tubuh Ebi benar-benar sehat. Tak ada gangguan apa-apa dalam organnya. Sehat, baik-baik saja, itu yang dirasakan Ebi. Karena itu, dia tidak tahu jika janinnya sudah meninggal satu bulan.

Ebi, perempuan luar biasa. Dengan senyuman dia berserah sepenuhnya pada Sang Khalik. Dan aku belajar darimu itu, Saudariku,
Semoga janin itu akan membawamu ke surga Allah. 
Semoga Alla juga segera memberikan penggantinya. 

Amin, amin, amin Ya Rabb.......


Selasa, Maret 05, 2013

Perempuan Tangguh

Kita tak pernah tahu usia kita. Salah satu rahasia Allah yang hanya diketahui oleh-Nya. Yang Tua belum tentu mendahului, yang muda belum tentu lebih akhir. Semua Allah yang menentukan. Kapan, dimana, dan bagaimana. Karena itu, sungguh amal baik yang dilakukan tidak akan pernah sia-sia dan jangan sampai di tunda. 

Hari ini, kembali Allah memanggil sahabat kami. Dalam sebuah kecelakaan menjelang pulang kerja. Agiek Faiz, lelaki istimewa pencinta keluarganya. Meninggal dalam keadaan menjemput rezeki dan berpuasa sunnah. Subhanallah, InsyaAllah engkau meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, Teman. 


Dan hari ini-pun aku tahu satu hal. Bahwa temanku ini adalah perempuan yang tangguh sekaligus tabah. Seorang perempuan yang selama ini selalu ceria dan murah senyum. Wira namanya.
Ketabahannya diuji mana kala Allah Sang Pemilik Waktu, memanggil suami tercintanya. Tanggal 4 Maret 2013, suaminya, Agiek, dipanggil oleh Sang Khaliq. Dia mencintai suaminya, tapi Allah ternyata lebih mencintai lelaki itu. 


Saat berziarah ke rumah duka, dalam perjalanan aku sudah membayangkan bahwa Wira tengah menangis tersedu-sedan di hadapan jenazah suaminya. Namun, sungguh salah perkiraanku. Di rumah duka itu, Wira justru tersenyum tenang sambil menggendong Lentera, buah hati mereka berdua. Wajahnya tetap tenang saat menyalami para penziarah, sambil mengucap terima kasih dan mohon maaf. Hatiku sungguh berdebar melihatnya. Betapa ketabahan dan keikhlasan yang dimilikinya begitu besar. Kepasrahan yang luar biasa yang dimilikinya membuatku iri.

Air mataku sebisa mungkin kutahan. Malu, rasanya menangis saat melihat yang kehilangan begitu tenang, begitu ikhlas, melepaskan.

Benar kata sebagian orang yang percaya pada garis yang Allah goreskan, bahwa Dia Sang Maha Tahu, memberikan cobaan pada umat-Nya tidak akan melebihi kemampuannya. Dan benar, Senyum dan penerimaan Wira menunjukkan bahwa dia yang terpilih. Bahwa dia yang mampu menerimanya. 

Terima kasih, Allah, sudah mengijinkanku belajar satu lagi keikhlasan dari sosoknya. Yuliezar Perwira Dara. 

Ya Rabb, semoga Engkau memberikan kekuatan untuk temanku, perempuan tangguh yang begitu ikhlas beserta putranya, Lentera. Semoga Engkau-pun memberikan tempat yang luar biasa bagi teman yang mendahului kami, Agiek.

Sampai ketemu lagi, Sobat :D

Senin, Januari 14, 2013

Penjual Kacang dan Sebuah Syukur (3)



Waduh, nggih setengah jam male! Kenopo, Mbak? (waduh, ya setengah jam lagi! Kenapa, Mbak?)?”
“Kok suwi nggih, Pak (kok lama ya, Pak?)?” tanyaku sambil melipat dahi.
“Ya, mau bagaimana lagi, Mbak,” jawabnya medhok dengan raut sedemikian rupa, seolah pasrah. “lha wong, memang aturane koyok ngunu, Mbak. Saben bis sing nyampe kene, kudu meneng barang setengah jam utowo rongpuluh menit, sampe bis liyane teko (memang aturannya seperti itu. tiap bis yang sampai di sini, memang wajib berhenti selama setengah jam atau dua puluh menit, sampai bis selanjutnya datang)!” jelas pak sopirnya.
Mbak e badhe dateng pundi, tho (Mbaknya mau kemana, sih)?” tanya seseorang yang duduk di samping pak sopir.
“Ambarawa,” jawabku singkat.
Oalah, yo sami, Mbak. Kulo nggih penumpang, kok. Lawas malah. Sabar wae (Oalah, sama, Mbak. Saya juga penumpang, kok. Malahan sudah lama. Sabar saja)!” ucapnya, yang ternyata juga penumpang di bis yang kunaiki.
“Saya takut kemalaman saja, Pak. Kan, saya tidak tahu kurang berapa jam lagi,” ucapku tidak kalah dalam berakting menunjukkan sikap cemas.
Ndak apa-apa, Mbak. Tidak akan kemalaman, kok. Sini Ambarawa hanya tinggal satu jam-an. Nanti, kalau tidak di jemput biar bapak carikan ojek atau angkutan umum. Tinggal mbak-nya kasih tahu dimana alamatnya,” jawab si bapak.
Mbak e lek mau mlaku-mlaku rumiyin, monggo (mbak-nya kalau mau jalan-jalan dulu, silahkan). Tidak akan ditinggal, kok!” sahut pak sopir.
“Ya sudah, Pak. Matur nuwun, nggih (terima kasih, ya)!” jawabku disambut dengan anggukkan bapak-bapak itu hampir bersamaan.
Jeda.
Menghela nafas sambil melangkah pergi.
Mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur membayar penuh sampai Ambarawa. Lagi pula, kalaupun harus mencari kendaraan lain, aku tidak tahu mesti naik apa dan di mana. Saudara laki-lakiku juga berpesan agar aku turun di terminal Semarang, lalu dia atau anak buahnya akan menjemput di sana.
Pandanganku kembali tersita oleh ibu tua yang duduk di emperan toko. Niat untuk kembali ke dalam bis, sempurna kuurungkan. Langkah kakiku tertarik untuk mendekati perempuan¾ yang kutaksir usianya sekitar enam-puluhan¾yang sedang sibuk dengan sesuatu.
Aku mendekatinya. Perlahan dapa kulihat bahwa dia sedang membungkusi kacang-kacang yang dibawanya dengan kertas majalah bekas. Aku tahu, ibu itu menjajakan kacang rebus. Kepulan uapnya masih nampak, mengisyaratkan bahwa kacang rebus itu baru saja diangkat dari perapian. Mengatakan dalam kepulan itu bahwa ‘dia’ masih hangat¾kalau panas terlalu ekstrem.
Aku lalu jongkok di sebelahnya. Sejenak menciptakan diam dan jeda di antara kami. Hanya sepersekian detik, kemudian si ibu sadar ada aku disampingnya.
“Kacang Godhog, Nak? (Kacang rebus, Nak)?” tanyanya dengan suara lirih, namun terdengar kuat.
“Ehm, inggih, Bu. Pinten sebungkus (ehm, iya, Bu. Berapa sebungkus)?” ucapku balik bertanya.
Sakarepe, Mbak e. Setunggal ewu saget, kale ewu nggih pareng (Terserah mbaknya. Seribu bisa, dua ribu juga boleh),” jawabnya sambil menyunggingkan senyum. Santun sekali. Padahal yang diajak bicara jauh lebih muda dari pada dia.
Sing kale ewu mawon, Bu. Gangsal bungkus (yang dua ribu saja, Bu. Lima bungkus)!” ucapku cepat, tanpa tahu untuk siapa saja lima bungkus kacang rebus ini nanti. Si ibu mulai membungkusi kacang pesananku.
Diam.
Tidak ada yang bersuara.
Si ibu konsentrasi membungkusi kacang rebus. Aku konsentrasi memperhatikan wajahnya.
Udara di sini cukup segar setelah diguyur hujan. Namun, kulihat ada beberapa butir peluh di kening ibu ini. Jadi ingin bertanya, seberapa jauh kau sudah berjalan membawa beban ini, Wahai Ibu penjual Kacang Rebus?
“Ini, Nak!” ucapnya membuyarkan kekhusyu’anku yang tengah melihat raut wajahnya.
“Oh, eh... iya, Bu. Terima kasih,” jawabku sedikit kaget sambil merogoh uang di kantong celanaku. “Ini ya, Bu!” lanjutku sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu.
“Aduh, mboten enten susuk e. Mbak e iki sing tumbas pertama (Aduh, tidak ada kembaliannya. Mbak adalah pembeli pertama),” ucapnya sedikit gugup karena tidak memiliki kembalian.
“Kalau begitu, Ibu buatkan saja lima bungkus lagi,” jawabku santai.
Hah? Gangsal bungkus male? Guyon a mbak iki? Mangke sinten sing maem (hah? Lima bungkus lagi? Bercanda Mbak ini? Nanti siapa yang makan)?” kata Ibu penjual Kacang sambil membelalakkan matanya yang hampir redup, tidak percaya. Aku sendiri tidak percaya. Kacang sepuluh bungkus ini nantinya akan dimakan siapa, ya? Tapi aku tidak terlalu peduli. Pasti banyak orang yang suka dengan kacang rebus. Dan kalau diberi gratisan, mereka tidak mungkin menolak. Yang penting, ibu ini sudah ada pembelinya.
“Tenang saja, Bu. Nanti, kan bisa dijadikan oleh-oleh,” ucapku sambil tersenyum. “Sudah, dibungkuskan saja, Bu. Saya serius, kok!” lanjutku.
Sambil membungkus setelah mengucapkan terima kasih, aku mendengarnya mengucapkan sesuatu dengan lirih. Sebuah kalimat yang jarang sekali aku ucapkan meski sudah begitu banyak hal-hal baik yang kudapatkan. Sebuah ucapan sederhana, namun mampu membuatku tertampar karena melupakan Sang Pemberi Nikmat. Ucapan yang dengan buliran air mata tak tampak, diucapkan oleh Ibu Penjual Kacang Rebus di depanku ini. Ucapan itu... Alhamdulillah, Ya Rabb!
Ibu itu kembali memberikan lima conthong kacang rebus padaku dengan tidak lupa untuk tersenyum. Ukuran sebungkus kacang rebus ini memang di sebut conthong. Bukan ukuran SI memang. Itu hanya sebuah kertas yang dibentuk seperti kerucut. Tentu saja, kertas itu seukuran majalah atau kertas koran yang di sobek menjadi empat. Mungkin sebagian penjual sudah menggunakan timbangan, tapi tidak sedikit juga yang menggunakan conthong. Ibu dihadapanku ini salah satunya. Dan aku tidak terlalu mempermasalahkannya, meski Kemetrologian yang berhubungan dengan timbang-menimbang adalah suatu bidang yang kukerjakan di kantor.
Aku menerimanya sambil mengucap terima kasih. Kulihat jam tanganku, kemudian beralih melihat sopir yang ada di warung kopi dan kondektur yang masih setia berteriak. Sepertinya belum ada tanda-tanda akan berangkat.
Aku memutuskan untuk berdiam saja di samping ibu ini sambil membuka satu bungkus kacang rebusnya. Mulai melahap sambil bertanya beberapa hal pada si ibu, seolah sedang menginterogasi pedagang di pasar. Seperti kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kantor.
Aku tidak lagi jongkok, melainkan duduk bersila di dekat ibu tadi¾meskipun si ibu sudah melarangku karena kotor. Kubilang saja, daripada jongkok, malah ambeien nanti. Beliau tertawa, mempertontonkan giginya yang tak lagi lengkap.
Dan mulailah cerita beliau.
Namanya adalah Suratni. Usianya... dia tidak tahu. Tapi dia bilang, ketika proklamasi kemerdekaan tanggal Tujuh-Belas Agustus Seribu-Sembilan-Ratus-Empat-Puluh-Lima, usianya baru tiga tahun. Artinya, beliau lahir tahun 1942. Artinya lagi, usianya saat ini¾tahun 2011¾adalah Enam-Puluh-Sembilan. Lebih sembilan tahun dari perkiraanku tadi. Dan masih harus bertarung di jalanan demi rupiah yang dia tidak tahu pasti berapa banyak di dapatkan hari itu.
Beliau hanya tinggal sendiri. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Masih ada dua anak perempuan yang keduanya bekerja di tempat membatik di daerah Solo. Hal itu membuat mereka berdua harus kos di Solo. Pulangpun tidak pasti, karena tidak seperti pegawai yang Sabtu atau Minggu libur. Di pembuatan batik, liburnya bisa sewaktu-waktu. Meskipun anak-anaknya sudah bekerja, namun tidak membuat Bu Suratni lantas bergantung pada kedua anaknya¾mengingat upahnya memang tidak seberapa. Biar di tabung saja buat kebutuhan mereka sendiri, kata Bu Suratni. Selama masih kuat mencari nafkah sendiri, tidak akan merepotkan buah hatinya, itu lanjutannya.
Setiap hari Bu Suratni harus berjalan lebih dari tiga kilometer dengan membawa beban berupa kacang rebus di punggungnya. Dan itu bukanlah sesuatu yang ringan untuk orang seusianya. Setiap satu bungkus¾seperti yang sudah dikatakan¾dijual dengan harga seribu atau dua ribu rupiah. Sehari beliau hanya bisa membut paling banyak dua puluh bungkus, mengingat hanya ‘sedikit’ kacang rebus yang bisa diangkutnya. Itupun belum tentu terjual semua.
“Lek rame nggih saget angsal yotro kalih doso ewu sampe tigang doso ewu. Mung lek sepi, nggih angsal gangsal welas ewu sampun Alhamdulillah (kalau rame, ya bisa dapat uang dua puluh ribu sampai tiga puluh ribu. Tapi, kalau sepi, dapat lima belas ribu saja sudah Alhamdulillah),” sahutnya saat aku menanyakan rupiah yang didapat dari berjualan kacang rebus sepanjang hari.
“Cekap damel sedinten-dinten, Bu (cukup untuk sehari-hari, Bu)?” tanyaku.
“Nggih lek masalah cekap mboten cekap niku yaknopo awake dewe. Didamel cekap nggih cekap, didamel mboten cekap... nggih mboten cekap. Nanging, sakniki lek mboten cekap nggih badhe nyuwun sinten? Nggih dianggep mawon tirakat. Sing penting rejeki sing wonten niku dados berkah damel urip kulo. Pun mboten kepingin sing macem-macem. Asal mboten kelepat bersyukur marang Gusti Allah, ben diparingi slamet dunia akhirat (ya, kalau masalah cukup tidak cukup, itu bagaimana kita sendiri. Dibuat cukup, ya cukup, dibuat tidak cukup... ya tidak cukup. Namun, kalaupun tidak cukup, mau minta sama siapa? Anggap saja hidup bertirakat. Yang penting rejeki yang ada itu menjadi berkah untuk hidup saya. Sudah tidak ingin macam-macam. Asal tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah, biar dikasih keselamatan dunia akhirat),” jawabnya dengan sangat sederhana. Tidak ada keluhan dalam intonasi bicaranya. Semua dilakukan tanpa kesah, tanpa menghakimi Sang Maha Pemberi, tanpa penuntutan.
Aku menganga. Terdiam.
Seketika menciptakan kembali jeda. Namun kali ini, tak kutahu berapa menit lamanya.
Aku membayangkan dengan apa yang aku dapat setiap bulan dari pekerjaanku. Tidak perlu mengangkat beban dan berjalan jauh, berpanas-panasan dengan penghasilan tidak tentu, bisa ijin kapan saja asal tugas sudah selesai. Tapi, jarang sekali bisa bersyukur secara istiqomah. Ada saja yang kurang. Rasa kurang dan kecewa untuk sesuatu yang belum kumiliki, membuat aku lupa untuk sesuatu yang sudah kumiliki, yang pantasnya untuk kusyukuri.
Bahkan aku memilih melarikan diri kemari, daripada menyelesaikan masalahku. Menuduh Sang Pengusaha Hidup telah memporakporandakan impianku, tanpa menyadari dan membuka ‘mata’ bahwa Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menjerumuskan ciptaan-Nya. Selalu menginginkan yang terbaik bagi umat-Nya. Dan aku terlambat memahami itu.
Aku sudah berprasangka buruk pada-Nya.
Aku.... mengecewakan-Nya.
Jeda ini kuisi dengan helaan nafas panjang.
“Seumpomo menungso eling lek kabeh sing ono ing dunyo iki kagungane Gusti Allah, sadar  lek mangke podho sedho mboten mbetoh nopo-nopo kecuali amalan kebaikan, ngrasaaken dadi menungso paling beruntung, Insya Allah mboten enten menungso sing mboten bersyukur. Nggarai kabeh menungso mresanine nang dhuwur, thok, dadi nggih ketingale sing dhuwur-dhuwur, mewah-mewah, angel nggayuke (Seandainya  manusia ingat bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, sadar kalau nanti semua yang meninggal tidak membawa apa-apa kecuali amalan kebaikan, merasakan menjadi manusia paling beruntung, Insya Allah tidak ada manusia yang tidak bersyukur. Sebabnya manusia itu melihatnya hanya ke atas saja, jadi yang kelihatan yang tinggi-tinggi, mewah-mewah, susah menggapainya),” kata Bu Suratni sambil menatapku dengan sinar matanya yang lembut, meski kerasnya roda kehidupan sudah menggilasnya¾seakan tahu isi hatiku.
Bu Suratni, mengajarkan bahwa, tidak ada kerja yang sia-sia, seperti halnya tidak ada doa yang sia-sia. Kalau hari ini saya hanya mendapatkan dua ribu-pun, berarti menurut Allah itulah rejeki yang barokah buat saya dan keluarga. Yang penting, saya tidak akan pernah menyerah dan terus berusaha, supaya Allah juga tidak segan melimpahkan rejeki-Nya buat saya dan keluarga. Dan, saya yakin, Allah tidak akan pernah memutus rejeki hamba-Nya yang meminta, nasehatnya kemudian. Bukankah menjadi kata yang sungguh luar biasa dari seorang perempuan renta yang hanya berjualan Kacang Rebus. Dia begitu percaya bahwa Allah, Sang Maha Hidup, tidak akan pernah meninggalkannya, selama dia tidak meninggalkan Allah.
Hari ini, bumi diguyur hujan. Cukup deras untuk melahirkan dingin dan hawa segar. Namun, satu-satunya hal yang membuatku sejuk dan membuka ‘mata’ hari ini bukanlah rintikan sisa hujan, melainkan pandangan teduh dan kata-kata yang keluar dari bibir perempuan renta yang penuh keriput.
“Ayo, Mbak... Arep Budhal iki (Ayo, Mbak... mau berangkat ini)!” teriak pak sopir itu kepadaku. Nyatanya, bapak berperut gendut itu tidak melupakan aku.
“Iya, Pak!” jawabku setengah berteriak sambil bangkit dari duduk bersilaku. “Ibu, matur nuwun sanget, nggih (Ibu, terima kasih banyak, ya)! Hari ini saya mendapatkan pelajaran tentang mensyukuri apa yang Allah kasih buat saya dari Ibu. Terima kasih... Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu selalu. Sampai ketemu lagi, ya,” pamitku sambil memegang tangan Bu Suratni yang sudah dilapisi keriput.
“Sama-sama, Nak. Semoga Allah melindungi Anak juga sampai tujuan, ya!”
Aku setengah berlari naik ke dalam bis yang sudah hampir berjalan. Kembali duduk di tempatku tadi. Kali ini, ada bapak yang tadi ada di warung kopi bersama pak sopir, yang duduk di sampingku.
Dua puluh menit.
Kurang, tidak sampai dua puluh menit.
Aku mendapatkan sesuatu yang berharga melebihi apapun.
Belajar tentang bersyukur.



Sleman, 22 November 2011
Perjalanan menuju Ambarawa,
Dimanapun Ibu berada, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kita bisa bertemu lagi

Kamis, Januari 10, 2013

Penjual Kacang dan Sebuah Syukur (2)


Yang pertama bisa baca di sini

Perjalanan menuju ke sana, tidaklah lancar. Padahal hari ini bukan akhir pekan atau liburan sekolah. Tapi, jalanan lumayan padat. Ditambah gerimis yang mengakibatkan jalanan sedikit licin, sehingga kendaraan-kendaraan itu berjalan dengan pelan dan hati-hati. Tiba-tiba saja perasaan itu datang. Perasaan bahwa aku akan tiba di sana lebih dari tiga jam kemudian. Fiufhh....
Memasuki kawasan Magelang, hujan mulai menderas. Pak Sopir mulai menghidupkan wiper, kondukter-pun ikutan mulai menutupi kaca jendela bagian atas. Sempurna sudah terasa panas dan gerah di dalam bis ini. Angin hanya masuk melalui jendela di samping sopir dan kondektur, lalu harus di bagi dengan sekitar empat puluh orang di dalam bis ini. Jadilah, kertas yang sempat menjadi kipasku tadi, sekarang harus bersedia kembali menjadi kipas.
Jeda.
Aku ketiduran.
Tas barangku masih dalam dekapan.
Aku terbangun karena sebuah suara cempreng dengan petikan gitar dari seorang pengamen yang naik dalam bis ini. Suaranya keras sekali, hingga aku yang sudah memakai walkman masih juga terbangun karena berisik. Kulihat pengamen itu. Usianya sekitar enam atau tujuh belasan. Sama dengan usia adikku yang bungsu. Berarti harusnya dia masih sekolah, bukan malah jadi anak jalanan dan menjadi pengamen. Lagi-lagi masalah biaya, ya?

Hm, pendidikan dewasa ini memang sudah melambung biayanya. Dana BOS bukan lagi sesuatu yang bisa diharapkan. Karena kadang realisasinya tidak sesuai dengan yang digembor-gemborkan. Atau, ini adalah pilihan hidupnya? Banyak tindikan di wajahnya. Di hidung, mulut, telinga dan pelipisnya. Aku membayangkan bagaimana caranya dia cuci muka, ya? Tato juga tidak ketinggalan menghiasi tubuhnya. Kemeja jeans yang digunting paksa lengannya membuatku bisa melihat tato-tatonya. Tangan kanan mulai dari pundak hingga pergelangan tangan. Tangan kirinya hanya di lengannya. Aku hampir tersenyum geli saat pandanganku sampai pada bagian kakinya. Remaja di depanku yang tengah mengamen ini, dengan gayanya yang super metal ala anak punk, ternyata mengenakan sandal jepit. Bukankah kebanyakan mereka-mereka yang model seperti selalu memakai sepatu kets?
Setelah menyanyikan tiga buah lagu, dan mengucap terima kasih dengan kata-kata yang super cepat, dia mengeluarkan bekas bungkus permen. Kemudian dengan santun menyodorkan pada para penumpang sambil mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tidak semuanya memberikan recehan padanya. Bahkan ada yang tidak segan membuang muka, seolah pengamen itu adalah sosok yang tidak layak untuk dilihat atau diberi senyuman.
Aku merogoh bagian depan kantong tasku. Tempat biasanya aku menyimpan harta melimpahku berupa uang receh. Aku tidak melihat berapa jumlah uang yang kuambil. Yang jelas, aku mengambil begitu saja. Memang tidak bergenggam-genggam, tapi lumayanlah. Aku meletakkan ke dalam bungkus permen yang disodorkan padaku. Terdengar bunyi kincring yang lemah, sepertinya tidak banyak yang memberinya uang sampai bangku baris ke enam ini. Ya, semoga di belakang akan banyak yang memberinya sekeping receh. Ah, kenapa aku jadi simpati? Dia, kan sudah membangunkanku dari tidur ‘siang’ku. Namun, sebuah ucapan terima kasih dari bibirnya dengan hiasan senyum membuatku terpaksa menaruh sedikit simpati padanya. Susahnya mencari uang, sedikit memberitahu padaku kenapa anak-anak seusia adik bungsuku ini malah berada di jalanan saat hari sekolah. Tapi aku tak tahu pasti, apakah memang untuk bertahan hidup, atau hanya untuk membeli seputung rokok? Entahlah.
Aku memandang keluar. Baru kusadar bahwa hujan sudah berhenti. Meninggalkan tetesan air yang merembet turun di kaca jendela bis ini. Menyisakan beberapa becek di jalanan. Aku mencari tahu sampai dimana sekarang melalui tulisan-tulisan yang mungkin menerangkan nama daerah ini. Tapi, sampai mataku hampir pusing menatap jalanan samping, aku belum menemukan nama daerah ini. Nihil.
Hingga akhirnya, pak sopir menghentikan bisnya di sebuah pojokan perempatan. Mengelap wajahnya dengan handuk yang tidak pernah terlepas bertengger di lehernya, sebelum turun dari bis. Kondektur sudah turun duluan, dan sekarang tengah berteriak-teriak mempromosikan bisnya untuk menarik penumpang tempat di perempatan jalan. Sepertinya akan lama ini, batinku. Bis yang berhenti di suatu tempat ramai, persimpangan jalan, kemudian sopir dan kondekturnya sampai turun, pasti tidak akan sebentar.
Daerah ini memang cukup ramai. Di sisi kanannya adalah sebuah pasar kecil dengan pedagang makanan di sepanjang jalannya. Sedangkan sisi kiri, banyak toko berjejer ditambah dengan beberapa angkutan umum yang ikutan bertengger mencari calon penumpang.
Di saat suasana suntuk mengetuk kepalaku, tiba-tiba sebuah pemadangan menyita mataku. Menariknya untuk terus melihat pada sesuatu itu. sehelaan nafas, rasa suntuk itu dapat kuusir. Pemandangan itu sebenarnya sangat sederhana. Bahkan lebih bisa cocok tidak menarik. Tapi, mataku tetap berada pada fokusnya. Perempuan tua menggunakan kebaya lusuh dengan jarik dengan memanggul sebuah keranjang besar di punggungnya. Aku tidak tahu apa yang dibawanya. Namun, kelihatannya bukan sesuatu yang ringan, hingga si perempuan renta itu harus membungkuk jalannya.
Sampai di depan sebuah toko, perempuan itu berhenti. Menurunkan beban berat di punggungnya. Duduk sebentar sekedar untuk menghela nafas, kemudian mengeluarkan sebuah sapu lidi kecil dari samping keranjangnya. Menyapu tempat yang akan dipakainya. Sebentar saja, kemudian menaruh sapu lidi tersebut di samping toko. Segera lalu dia bersimpuh dan membuka keranjang di hadapannya.
Sepertinya dia menjual sesuatu.
Penasaran aku memicingkan mata, berusaha memperjelas pandanganku. Tapi hasilnya nol. Minus yang diderita oleh mataku, membuatku tidak bisa melihat benda-benda yang jauh. Apalagi dihalangi juga oleh kaca jendela yang kabur karena embunan air hujan. Akhirnya aku memutuskan untuk turun.
Kuinjakkan kaki di tanah aspal. Celingukan mencari kondektur atau sopirnya. Kutemukan kondektur di persimpangan, belum juga berhenti berteriak. Sopirnya, kutemukan sedang duduk di sebuah warung kopi di sisi kiri jalan, di belakang bis. Aku melangkah mendekati pak sopir.
Nyuwun sewu (permisi), Pak!” sapaku. Si sopir itu yang tengah meniup kopinya, mendongakkan kepala mendengar sapaanku.
Inggih, Mbak? Wonten nopo (iya, Mbak? Ada ada?)?” tanyanya.
“Masih lama ya, Pak, berhentinya?”

 bersambung....

Selasa, Januari 08, 2013

Penjual Kacang & Sebuah Syukur

“Setengah hidupku belajar di bangku sekolah, 
belum kudapatkan pelajaran syukur seperti ini....
Dua puluh menit aku bersamanya,
aku sudah mendapatkan arti syukur yang berharga!”


Langit Jogja siang ini mendadak mendung. Padahal sejak pagi hingga beberapa menit yang lalu matahari masih bersinar dengan gagahnya. Gerah, itulah yang kurasakan. Sepertinya suhu sekitar naik karena mendung tiba-tiba ini. Katanya, hal itu karena tekanan udara yang meningkat yang disebabkan atmosfirnya tertutup awan, yang akhirnya juga menutup ruang gerak udara dari atas, makanya udara di bawah tidak leluasa untuk bergerak ke atas dan akhirnya dia mengalami titik jenuh yang di dalamnya mengandung molekul-molekul uap air sisa dari panas matahari. Kemudian uap itu tidak bisa bergerak ke aras karena tertahan si jenuh, ditambah lagi molekul keringat tubuh yang tidak bisa keluar karena tertahan si jenuh tadi. Jadinya, gerahlah yang dirasakan oleh tubuh kita.

Aku mengipaskan kertas yang ada di tanganku sambil menunggu bis jurusan terminar Semarang. Rencananya, hari ini aku ingin pergi ke tempat saudara laki-lakiku di Ambarawa. Mumpung ada waktu longgar selama di Jogja ini. Kalau ditanya ada keperluan apa kemari, aku akan menjawab ‘Aku sedang melarikan diri!’ yang berkedok perintah dari kantor untuk mendampingi selama Pameran di Jogja Expo Center ini. 

Jadwal di lembaran kertas yang tertempel di stand pameran tertulis bahwa hari ini dan esok tugasku untuk mendampingi akan digantikan oleh bapak-bapak berusia di ambang lima puluhan dengan kumis hitam yang jarang dan rambut kerap dicat tiap dua minggu sekali untuk menutupi tanda penuaannya. Aku tidak menyia-nyiakan keberadaanku di sini. Kalau tidak ada acara beginian, tidak mungkin aku bisa cabut dari kantor dan dari segala ‘hiruk pikuk’ di kampung halaman. Terima kasih kantor, telah memberikan kesempatan untuk melarikan diri. Setelah ijin dan berkemas, aku keluar dari tempat pameran ini pukul satu siang menuju terminal Bis Trans Jogja. Hanya menunggu sebentar, sepuluh menit kemudian bis yang kutunggu datang juga. Siap mengantar ke Terminal Bis besar.

Jeda.
Ambil nafas.
Hembuskan.

Bis yang kondekturnya meneriakkan terminal Semarang, belum juga kudapatkan. Aku masih berdiri di samping Terminal Giwangan, sengaja tidak masuk karena malas untuk menunggu lama lagi-lantaran bis di dalam selalu dalam kondisi tidak siap berangkat. Akhirnya setelah dua puluh menit kemudian, bis jurusan Semarang kulihat keluar dari terminal ini. Kondektur, dengan suara yang bersaing dengan deru mesin kendaraan bermotor. Hebat, pasti tidak pernah terkena radang tenggorokan.

Aku melambaikan tanganku. Perintah sederhana untuk memintanya berhenti. Dia berhenti lima puluh meter dari tempatku berdiri. Kebiasaan. Setelah menginjak gas sebegitu cepatnya, tiba-tiba harus me-rem  mendadak. Ya tidak bisa langsung berhenti. Ditambah lagi semua sopir dan kondektur bis itu penganut faham harus cepat biar dapat banyak setoran. Selalu saja menyuruh penumpang cepat-cepat naik, lalu begitu sudah naik, langsung berangkat meskipun si penumpang belum mendapatkan tempat duduk. 

Aku berlari kecil karena teriakan si kondektur. Untung hanya membawa tas ransel, jadi tidak perlu terlalu kerepotan dengan barang bawaan. Akhirnya naik juga. Benar saja, begitu semua kakiku sudah berada di tangga pertama pintu masuk bis ini, si sopir langsung menginjak gas. Membuatku hampir  terjengkang ke belakang. Untung aku sudah memegang besi yang tepasang di pintu bis. 

Hukum Fisika, benda diam akan cenderung diam, benda bergerak akan cenderung bergerak. Paham? Maksudnya, ketika kita dalam posisi bergerak ke depan atau belakang, lalu tiba-tiba diam, maka kita akan menyisakan sebuah gerakan ke arah depan atau ke belakang-cenderung untuk bergerak ke depan atau belakang. Begitu juga sebaliknya, saat kita dalam posisi diam, lalu tiba-tiba bergerak ke depan, maka kita akan meyisakan sebuah gerakan ke belakang-cenderung untuk diam. Apa? kau ingin mempraktekkannya? Silahkan!

Jeda.
Menarik nafas lagi lebih panjang.

Aku mendapat duduk di bangku nomor enam dari depan, sebelah kiri. Karena hanya kursi itu yang murni belum ada penghuninya. Ketika mengadakan perjalanan aku memang paling suka duduk dekat jendela. Apalagi kalau jendelanya bisa di buka. Selain bisa mengurangi mabuk perjalanan, aku bisa melihat segala hal yang kulewati.

Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah walkman. Untung aku membawanya. Lumayan untuk menemani perjalanan yang kalau lancar, kuperkirakan memakan waktu tiga jam. Apalagi dalam bis yang miskin musik dan hanya mengandalkan pengamen jalanan yang suaranya kadang kalah dengan suara mesin bis ini sendiri. 

Sekejap saja, aku sudah berada di duniaku sendiri. Damai, dengan ditemani Geisha, SOS, Gigi, Rihanna, Miley. Tidak sekalipun menghiraukan sekitar. Tentu saja aku tidak lengah masalah tas. Aku mendekapnya. Selain baju dan uang, di dalamnya juga ada sekedar buah tangan untuk dua keponakanku. 

Ambarawa. Banyu Biru. Markas Tentara. Di sanalah saudara laki-lakiku tinggal bersama keluarga kecilnya. Bertugas dan meninggalkan kampung halaman lebih dari enam tahun. Dan kunjunganku kali ini adalah yang pertama. Pertama datang ke rumahnya sekaligus pertama menginjakkan kaki di sebuah tempat dimana terdapat banyak pria ‘berseragam’. Jujur saja, bukan hal yang cukup menyenangkan sebenarnya berada di tempat ini. Sejak lama aku tidak begitu suka pada laki-laki ‘berseragam’. Sedikitpun. Mungkin karena selama ini, yang kutemui adalah tentara-tentara atau polisi yang genit. Yang punya (maaf) ‘simpanan’ di mana-mana. Yang suka menggoda perempuan. Yang punya perut buncit. Ah, rasa terima kasihku pada mereka hanya sebatas karena mereka adalah pembela negara. Lebih dari itu... tidak.

bersambung....