Senin, Juli 15, 2013

Sahur itu enaknya...

Sahur, ehm, apa ya? Makan sebelum adzan shubuh berkumandang. Iya, itu dia. Dan terjadinya hanya pas bulan puasa. Nggak ada di bulan-bulan lain, kecuali bagi siapa yang mau puasa sunnah. 

Sudah enam hari ini sahur kami lakukan sekeluarga. Ada satu hal yang wajib ada pas sahur, yaitu sayuran. Aku sudah membandingkannya, antara sahur dengan lauk sayuran dan sahur dengan lauk daging saja. Kalau pakai sayur, entah itu sop, bayam atau sayuran lain, rasanya tubuh ringan dan kuat sampai sore. Tapi, kalau sahur dengan daging, Ya ampun, rasanya badan ini berat sekali. Jam satu siang pun rasanya sudah perih perut ini. 

Lalu, minum es saat sahurpun bikin lemas di badan ini. Entah bagi sebagian orang, tapi bagiku begitulah adanya. Karena itu, sebisa mungkin aku pesan sama ibu untuk membuatkan sayur. Sederhana saja, yang penting ada sayurnya. Susu? Jika sehabis sahur kita tidak tidur, bolehlah minum susu. Tapi, jika kita mau tidur lagi selepas sholat shubuh, ada baiknya tidak perlu minum susu. Agar nggak terjadi penimbunan kalsium di tulang. 

Sahur itu, memang enaknya makan yang segar-segar. Mata kantukpun akan lenyap jika lidah terserang rasa segar. Yang pasti, dari sini ada pengalaman, bahwa sahur lebih enak pakai lauk ikan dan sayur, ditambah mendekati imsak :D

Persiapan yang melelahkan

Fiufh, rasanya bagaimanapun atau seberapa sering keringat ini diseka, sepertinya tetap saja mengalir keluar. Persiapan pembukaan pasar ramadhan tahun ini benar-benar menyita perhatian penuh. Gimana nggak, belum lagi paham aturan pembuatan dokumen tahun lalu, eh, sudah ganti lagi aturan dan tahapannya. Memang untuk tahun ini tahapannya lebih sedikit daripada tahun lalu, tapi pemahamannya lebih kompleks. Belajar lagi, batinku sengsara *ih, vina mah berlebihan*

Sebenarnya senang juga dapat tugas bikin beginian. Waktu jadi nggak terasa, apalagi pas puasa-an. Tapi bolak-baliknya buat konsultasi sama yang ahli ini lho, yang waduh... berasa kayak anak kuliahan yang lagi skripsi. 

Belum lagi ribet masalah dokumen, masih ada hal yang nggak kalah penting.  Persiapan pembukaan kegiatan itu sendiri. Pesan-pesan bingkisan untuk dibawa pulang sama undangan, nggak kalah menguras energi dan keringat. Belum lagi sambutan sama ngurusi undangan yang akan dibagikan. Jangan sampai ada yang kelupaan kayak tahun kemarin. Oia, menghubungi pihak-pihak terkait juga bikin kepala pusing. Ada saja yang nggak langsung ngasih jawaban siap nggaknya ikut acara itu.

Baiklah... *seka keringat sekali lagi* mari kita mulai menghajar dokumen ini. *nyalain lepi, pasang kacamata, kerja..kerja..kerja*

Rabu, Juli 10, 2013

Ramadhan menyapa

Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah
Tidak ada yang bisa saya katakan selain Alhamdulillah, saat sang Ramadhan berkenan mengunjungi saya lagi. Ehm, saya dan keluarga, maksudnya. :D
Hallo, Ramadhan... Selamat datang kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kedatanganmu selalu saja menjadi spekulasi. Entah tanggal 1 atau 2 Ramadhan, yang kalau di kalender kita tanggal 9 atau 10? Kenapa nggak bisa datang barengan?
Eniwey, terlepas dari datang bersamaan atau tidak, kami sekeluarga tetap menyambut ramadhan dengan senang hati. Dan tahun ini, Ramadhan di tempatku benar-benar semarak. Bagaimana tidak, anggota keluarga kami bertambah satu orang lagi. Adik ipar. Sahur dan buka makin rame. 

Bicara tentang sahur dan buka, adalah dua hal yang menurutku (dan mungkin juga bagi kebanyakan orang) adalah saat-saat yang menyenangkan. Selain sholat teraweh juga. Karena dua, eh, tiga hal itu hanya ada di satu bulan diantara duabelas bulan yang ada. Bukankah itu menjadi hal yang ditunggu-tunggu? 

Aku merasa menjadi mualaf ketika bulan puasa datang. Selama sebelas bulan sebelumnya sudah melakukan banyak dosa, saat berdiri di depan pintu ramadhan, serasa akan melangkah menjadi mualaf. Banyak orang yang bilang bahwa saat hari raya setelah ramadhan, kita yang melaksanakan ramadhan dengan sebaik-baiknya akan seperti bayi yang baru lahir. Sama halnya dengan menjadi mualaf, kan? 
Dan puasa kali ini tentu saja di rumah menjadi lebih semarak. Ada tambahan anggota keluarga yang akan menjalani puasa bersama kami. Adik ipar. 

Ramadhan, selamat datang di rumah kami. Selamat datang di kampung kami. Selamat datang di bumi kami.