Selasa, November 27, 2012

Dia Positif?? Alhamdulillah >>> part 1

Tak ada kata yang luar biasa yang bisa kuucapkan pada-Mu Ya Allah, selain Subhanallah dan Alhamdulillah. Kedua kata itu telah cukup mewakili perasaanku saat mendengar berita darinya. Febry Waliulu. Perempuan luar biasa yang setahun lebih ini sudah mengisi hidupku dengan ceritanya. 

Pagi ini, saat aku membaca status di twitter, aku merasa dia tengah bahagia. Apa yang dinantikannya katanya hadir. Aku langsung menelponnya. Sayang, sambungan itu tidak diangkat. Mungkin Ebi-panggilannya- sedang ada di Piru, tempatnya bertugas. Aslinya memang Ambon, tapi dia dan Caca Linda Waliulu dapat tugas dari Pemda di Piru. Sekitar empat jam dari Ambon, menyeberang laut, katanya begitu.

Akhirnya aku mengirimi dia sebuah pesan. Apakah gerangan yang membuatnya begitu bahagia? Apakah....?
Dan jawabannya adalah : 
"Vin, Alhamdulillah testpack tadi Shubuh positif. Tapi masih belum berani ngomong, masih belum full bahagianya. Insya Allah besok ke Ambon baru periksa ke dokter untuk memastikan"

Sungguh berita yang membahagiakan, meski bukan aku yang positif. Hahahaha, bagaimana mungkin ya bisa positif, orang 'partner'nya saja belum ada, hahaha.

Ya Rabb, Alhamdulillah. Hamba ikut senang dengan berita ini. Semoga Engkau memberikan berita yang menggembirakan esok untuk saudaraku. Amin

 

Jumat, November 23, 2012

The Winner

 

Tanggal 17 Nopember 2012, buatku mungkin adalah hari yang istimewa. Tidak hanya buatku, buat si Bungsu Vira juga merupakan hari yang istimewa.

Setelah seharian menunggu pengumuman dari Bappenas atas beasiswa yang aku ikuti, akhirnya muncul juga. Sebelumnya sempat pesimis, karena pengumuman yang seharusnya tanggal 16 Nopember 2012, sampai tanggal 17 belum juga keluar. Dan akhirnya bisa tenang saat menerima sms dari Niskha yang bilang, bahwa aku lulus tes tahap pertama. Subhanallah.

Belum selesai senangnya, adikku yang ikut acara Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Lumajang 2012 dinyatakan sebagai pemenang pertama.

Sungguh, bangganya luar biasa ketika selempang bertuliskan "Yuk Lumajang Tahun 2012" dikalungkan pada si Bungsu. Menjadi juara I Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Lumajang 2012 sebenarnya bukan hal yang diinginkan dek Vira. Inginnya sih juara II atau III saja. Paling tidak setelah acara ini, maka selesai sudah tugasnya. Kalau juara I, setelah ini akan ada rentetan tugas yang menunggunya. Termasuk ikut dalam acara pemilihan Raka-Raki Jawa Timur tahun depan.

Tapi, apa boleh dikata. Allah sudah kasih rejeki itu sama dia. Maka, mau tidak mau, dia harus bertanggung jawab :D Dan mulai sekarang, dia menjadi salah satu manusia Lumajang yang bertugas mempromosikan wisata di daerahnya, hehehe. 

Yang jelas, kami sangat bangga padanya. Terlihat Ibu yang berdiri mendadak begitu mendengar namanya di sebut. Ibu yang luar biasa, yang mendukung adek sampai sekarang. Mulai dari cari baju, sepatu, make up, dan lain-lainnya. 

Pertanyaan yang didapatnya adalah :
"Apa yang kamu ketahui tentang keunikan wisata/kesenian di Kabupaten Lumajang?"

Jawaban dia:
"Kita sebagai warga Lumajang harus bangga dengan kesenian yang ada seperti Jaran Kencak. Uniknya, Kuda yang digunakan sebagai kesenian ini dapat dilatih. Dia dapat menari, bergoyang, sambil mengangkat kakinya. Terima kasih"  
(Sepertinya kurang lebih seperti itu jawabannya (^^))
Welldone, cantik... Selamat ya... Maaf, seharusnya postingan ini muncul tanggal 17 Nopember 2012, atau paling tidak tanggal 18 Nopember 2012. Namun, karena ke-lemot-an jaringan internet dan ke-malas-an diri sendiri, akhirnya postingan ini 'sedikit' terlambat, hehehe....\(^_^)P
Tapi, tenang saja... ini tak mengurangi rasa bangga kami padamu, sayang :D

Minggu, September 30, 2012

Journey in Makassar >> Day 2

Menu hari ini adalah Bantimurung. 
Aku baru tahu kalau ternyata Bantimurung itu berada di Kabupaten Maros. Jarak dari Tamalanrea sekitar, ehm, berapa ya? Mungkin hampir sekitar 80 kilometer. Waktu yang ditempuh dengan naik motor sekitar satu jam lebih. Dan akhirnya menjadi hampir 3 jam karena pakai acara nyasar segala, (^_^)
Arah Bantimurung juga berlawanan dengan arah Losari. Jadi, seharian ini khusus menjelajahi keindahan Bantimurung di Kabupaten Maros. 


Berangkat dari Tamalanrea pukul setengah 10. Isi perut, isi bensin, siapin amunisi (kamera, mukenah, air minum, duit). Perjalanannya cukup jauh. Dua puluh menit kemudian, kami sampai di depan sebuah masjid yang bagus banget. 
Ini Masjid Besar Maros, Dek! kata Nadeth ngasih tahu. Aku manggut-manggut saja. 
(Masjid Besar Maros)

Siang itu, Masjid Besar ramai oleh pengunjung. Bahkan ada yang datang dengan rombongan bis. Mungkin sekalian menunggu waktu adzan Dhuhur. Setelah puas lihat-lihat, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan semula.

Dan setelah menempuh waktu satu jam kurang, Kak Nadeth baru nyadar kalau kita kesasar. Wilayah Pangkep, tempatnya semen BOSOWA dan TONASA, di daerah situlah kita kesasar. Jauh banget. Sudah lintas Kabupaten pula. Haddddeeeehhhh....

Balik arah. Fokus.

Setengah jam kemudian, kami melihat tanda kedatangan seperti ini


SELAMAT DATANG 
TAMAN PRASEJARAH LEANG-LEANG
KAB. MAROS

Berhenti sebentar. Mikir bareng. Kesini saja dulu kak, kataku. Boleh, deh, jawab Nadeth. Lalu kami masuk ke kawasan itu. Kami kira, sih, jaraknya dekat dengan gapura kedatangan. Ternyata masih sekitar 3 atau 4 km lagi.

Tahu tidak? Ketika mulai masuk kawasan ini, meski belum taman prasejarahnya,  perasaan kami mulai aneh. Kayak sunyi banget gitu. Orang jawa bilang singup. Perasaan 'sendirian' yang teramat sangat. Batuan-batuan, tebing nan menjulang, suasana desa yang tanpa penghuni (ga tau pada kemana), alam setengah tandus-setengah rimbun. Entahlah. Tempat ini kayak nyimpen sesuatu yang 'sesuatu' banget lah.







Sepi banget, kan? Bahkan berjejeran rumah-pun seperti tanpa penghuni. Kemana orang-orangnya? Bertani kah? Berkebun? Tapi, dimana? Sepanjang perjalanan menuju tempat itu, tak ada satupun yang terlihat.

Akhirnya, beberapa menit kemudian, aku dan kak nadeth sampai di Taman Prasejarah-nya. Sama halnya dengan jalanan tadi, disinipun sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang menjadi penjaga Taman ini. 

 





Meskipun sempat foto-foto sejenak, tapi aku merasa nggak bisa bertahan lama di sini. Tebing ini terasa mau runtuh saja. Leang-leang artinya adalah Gua. Ya, dalam gua itu ada semacam peninggalan prasejarah. Mulai dari cap kaki-tangan, tengkorak, ini, itu dll. Kalau mau masuk sih bisa tapi mesti ada guidenya.
Nggak deh terima kasih. Biarpun guidenya gratis, mending nggak usah lah. Dari luar saja sudah begini auranya, apalagi di dalamnya. Nope deh!!!!

Perjalanan di lanjutkan.
Sekarang benar-benar mau ke Bantimurung ini. Bantimurung adalah taman nasional yang menjaga kelestarian Kupu-kupu. Jaraknya dari Taman Leang-Leang sekitar 1,5 kilometer. Dan sungguh hati merasa lega dan seneng ketika sudah telihat sebuah gapura pintu masuk ke Taman Nasional Bantimurung. Bahkan di tebing bukitpun sudah tertulis Taman Nasional Bantimurung. 
 


 100 meter kemudian, bisa dilihat gapura penyambutan bagi wisatawan yang hendak masuk ke wisata air terjun dan kupu-kupu Bantimurung.
 
 Konon, selain Kupu-kupu, simbol Bantimurung adalah Monyet. Bisa terlihat, kan ada monyet yang tengah melambai di belakang Kupu-Kupu? d(^_^)/

Disana ada penangkaran dan kebun kupu-kupu. Ada ribuan spesies kupu-kupu yang dikembangbiakan di sini. Bahkan beberapa mahasiswa melakukan penelitian di tempat ini.

 

Puas 'main' kupu-kupu, kami masih ke dalam area wisata air terjun. Sebelumnya, kami mesti beli tiket masuk seharga Rp. 15.000,- dulu. Begitu masuk, kami langsung disambut dengan cuara gemericik air. Dan tahu tidak, tidak hanya air terjun yang menarik disini. Tapi, ada sebuah musholla yang terbuat dari batu. Keren, kan??? Banyak yang sedang bersiap melakukan sholat di situ. Bahkan, air wudhunya langsung muncul dari dalam tebing. Tempat ini sungguh.. Subhanallah... Allah Maha Indah....

 
                     Ini, nih Mushola dari batu :))

 



 
Tak banyak yang bisa diucapkan tentang tempat ini. Bagus banget. Angin berhembus di tempat yang rimbun banget. Kaya akan pepohonan, didampingi sama kupu-kupu yang terbang kesana-kemari.
Rasa ini nggak sama dengan waktu di leang-leang beberapa menit yang lalu. Meskipun sama-sama dekat tebing. Mungkin karena tempat ini sudah di jamah oleh banyak orang ya?
Katanya kalau udah nggak terlihat kupu-kupu yang terbang, maka akan terjadi sesuatu. Untuk pas kita kesana, kupu-kupu masih main-main disekitar kita. Amin.
Sayang, di taman ini nggak ada yang jual nasi atau makanan. Sebagian pengunjung bawa makanan sendiri. Gelar tikar, sim salabim, jadilah piknik keluarga.  

Nah, sebelum pulang, mampir lihat-lihat penjual souvenir yang berjajar dijalanan menuju pintu keluar. Banyak macam yang dijual. Bros motif kupu, gantungan kunci kupu, kaos kupu, melimpah ruah. Tinggal pilih saja. Mulai harga Rp. 5000,- sampai dengan Rp. 75.000,- Kalau aku, cuma beli bros sama gantungan kunci. Murah meriah :))


Okay, sudah waktunya pulang. Dalam perjalanan pulang, aku bersyukur. Sekali lagi bisa melihat keindahan ciptaan Sang Maha Indah. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menikmatinya. Terima kasih atas penjagaan-Nya selama dalam perjalanan. 
Dan, terima kasih sudah memberikan dua cuaca padaku selama di Makassar. Dari kemarin yang panas, sekarang, dalam perjalanan pulang, Tuhan kasih hujan. Subhanallah, ademnya. Nggak deras, hanya semacam gerimis.

Lalu, menikmati Sop Saudara dan Sop Konro sebagai menu makan siang ditemani rintikan hujan, hmmm... yummy.... :b
Sop Saudara VS Sop Konro