Rabu, Juli 10, 2013

Ramadhan menyapa

Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah
Tidak ada yang bisa saya katakan selain Alhamdulillah, saat sang Ramadhan berkenan mengunjungi saya lagi. Ehm, saya dan keluarga, maksudnya. :D
Hallo, Ramadhan... Selamat datang kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kedatanganmu selalu saja menjadi spekulasi. Entah tanggal 1 atau 2 Ramadhan, yang kalau di kalender kita tanggal 9 atau 10? Kenapa nggak bisa datang barengan?
Eniwey, terlepas dari datang bersamaan atau tidak, kami sekeluarga tetap menyambut ramadhan dengan senang hati. Dan tahun ini, Ramadhan di tempatku benar-benar semarak. Bagaimana tidak, anggota keluarga kami bertambah satu orang lagi. Adik ipar. Sahur dan buka makin rame. 

Bicara tentang sahur dan buka, adalah dua hal yang menurutku (dan mungkin juga bagi kebanyakan orang) adalah saat-saat yang menyenangkan. Selain sholat teraweh juga. Karena dua, eh, tiga hal itu hanya ada di satu bulan diantara duabelas bulan yang ada. Bukankah itu menjadi hal yang ditunggu-tunggu? 

Aku merasa menjadi mualaf ketika bulan puasa datang. Selama sebelas bulan sebelumnya sudah melakukan banyak dosa, saat berdiri di depan pintu ramadhan, serasa akan melangkah menjadi mualaf. Banyak orang yang bilang bahwa saat hari raya setelah ramadhan, kita yang melaksanakan ramadhan dengan sebaik-baiknya akan seperti bayi yang baru lahir. Sama halnya dengan menjadi mualaf, kan? 
Dan puasa kali ini tentu saja di rumah menjadi lebih semarak. Ada tambahan anggota keluarga yang akan menjalani puasa bersama kami. Adik ipar. 

Ramadhan, selamat datang di rumah kami. Selamat datang di kampung kami. Selamat datang di bumi kami.

Rabu, Juni 26, 2013

Reply 1997... Mengingat cinta pertama

Baru selesai menamatkan drakor "Reply 1997" atau bisa juga disebut "Answer Me 1997". Melihat drakor itu, rasanya seperti dibawa menuju kenangan jaman SMa dulu. Setting tahun 2012 yang dipadu dengan beberapa setting di tahun 1997, awalnya terasa membingungkan. Tapi, lambat laun, saya jadi menikmati perjalanan 'roh' sang pemeran utama dan para sahabatnya ke masa lalu. Ke masa 15 tahun yang lalu. Saat mereka masih berusia 18 tahun, di tahun 1997. 


Inti dari cerita ini adalah tentang persahabatan dan cinta pertama. Semua hal yang terjadi adalah 'yang pertama'. Dimana semua dialami dan dijalani dengan sikap yang polos. 
Adalah Shi Won dengan Yoon Jae, sahabat yang tumbuh besar bersama. Saling berbagi apapun yang mereka miliki. Tak ada rahasia diantara mereka. Tidak ada perasaan yang lebih dari sekedar saudara dalam hati mereka. Hingga pada suatu saat, mereka menjadi siswa SMA. Saat itulah, Yoon Jae merasa ada sesuatu yang berdegup dalam hatinya saat melihat dan bersama Shi won. Dia Jatuh cinta pada teman masa kecilnya itu. 

Kisah ini, sejak awal hingga akhir ending, selalu penuh teka teki. Ada yang mau mengumumkan pertunangan, ada yang sedang hamil, bahkan suami Shi won pun masih dirahasiakan sampai episode terakhir. Yoon Jae kah, atau sang kakak, Tae Woong? Kisah ini menceritakan, bahwa jodoh kita bisa saja cinta pertama atau cinta kesekian. Bisa saja cinta pertama menjadi pasangan hidup, tetap sebagai sahabat, atau berlalu dan hilang begitu saja. Tak tahu akan menjadi apa sahabat kita, masihkah berhubungan sebagai sahabat atau justru berpisah sebagai orang asing. Masihkah sahabat terbaik mendampingi hingga usia menua atau malah memilih pergi menjejakan kakinya sendirian.

Melihat kisah ini, ingin rasanya ikut kembali ke usia 18 tahun. Cinta pertama menjadi hal yang sangat menakjubkan. Bukan hanya karena itu pertama kalinya kita jatuh cinta, melainkan saat itu kita mencintai seseorang tanpa syarat. Kita menjadi apa adanya, dengan segala kepolosan, keluguan, naif, dan bodoh. Itu adalah pertama kalinya kita tahu, bahwa saat kita menyukai seseorang, kita takkan bisa berhenti memperhatikannya. Saat itu, kita tahu, jika kita hanya diam, maka takkan ada hasil bagi diri kita. 

Ah, cinta pertama ya? Kapan itu terjadi, ya? Hm, SMP? SMA? Kapanpun itu terjadi, sebuah cerita tentang cinta pertama memang selalu menggelitik. Menyejukkan hati disetiap waktu yang mulai membosankan ini. Saat usia muda perlahan merangkak tua. Cinta pertama, takkan ada seorangpun yang bisa melupakan.

"Reply 1997" atau "Answer me 1997" layak ditonton. Supaya kita ingat, betapa kita pernah merasa 'bahagia' di usia 1998. Persahabatan, cinta pertama, mengidolakan selebriti, grup band, persaingan, pertengkaran dengan sahabat, dengan orang tua, salinh berbagi, semuanya ada di drakor ini. Keren pokoknya. Mungkin saat 1997 kita masih berusia di bawah 18 tahun. Tapi, cerita ini tetap tentang anak-anak 18 tahun, dan kita pernah merasakan itu, kan? Tahun berapapun itu. 

Answer me, 2003. Saat itu usiaku 18 tahun. Meskipun cinta pertama dan persahabatan sudah kurasakan sejak 3 tahun sebelumnya, tapi usia 18 tahun memang selalu menakjubkan. 
Selamat datang kembali, 18 tahun. :D

Minggu, Juni 23, 2013

Titip rindu, Supermoon

"Aku titipkan rinduku padamu melalui bulan yang tengah bersinar terang dengan bulatnya yang sempurna"

Supermoon. Bulan dalam kondisi sedang terang-terangnya bersinar, yang terpampang sombong menunjukkan bulatnya yang sempurna. Tersenyum angkuh membalas tatapan takjub manusia. 
23 Juni 2013, aku menatap bulan. Sejak dia muncul beberapa menit yang lalu, dia sudah berhasil menawan hatiku. Sama denganmu, yang sudah lama menawan perasaanku. Ah, mengingat itu lagi membuatku mendadak pusing. Selalu saja pertanyaan yang sama akan muncul. Kenapa aku bisa jatuh hati padanya?Kenapa aku berpisah dengannya? Kalau sudah begitu, perasaan pusing tadi akan berubah menjadi rindu.

Loteng ini menjadi saksi bahwa saat aku menyaksikan sang bulan beraksi, aku tengah merindukannya dalam level yang tinggi. Sedang apa, ya dia disana? Apakah dia juga tengah memandangmu, Wahai Bulan? Apakah tampak sama bulan yang kita pandang?
Ingatkah kamu saat kita memandang langit bersama? Jika kau ingat, pernahkah kau tahu apa yang kuharapkan saat itu? Aku mengharapkan kesehatanmu dan kebahagiaanmu. Saat ini aku merasa doaku salah. Seharusnya aku mendoakan agar kau bahagia bersamaku.

Akhirnya, disinilah aku sekarang. Sendiri, memandang sang bulan yang tersenyum. Entah mengejek atau bersimpati padaku. Ah, Bulan... sedang apa dia sekarang? Aku bertanya lagi. Sedang memandangmu-kah lelaki itu? Sendiri, atau bersama kekasihnya? 
Sebelum beranjak turun, sekali lagi aku menamatkan pandanganku pada sang bulan. Melukis indah di hati ini, sambil berharap semoga hati ini akan baik-baik saja. Ya, akan selalu baik-baik saja. Demi mereka... demi dia.