Sehabis tarawih, aku dan bapak pergi keluar untuk cari kolak langganan bapak. Ketika melewati jalan Panjaitan, pas di lampu merahnya, aku melihat ada sosok anak dan bapaknya tergeletak di tepi jalan. Mereka tidak mati, mereka masih hidup. Hanya saja mereka memang tidak ada bedanya dengan orang 'mati' karena tak punya masa depan lagi. Jangankan rumah, untuk makan saja mereka mungkin masih harus mengais sampah. Mereka tidur dimanapun tempat menerima mereka. Kalau di trotoar ini diusir, mereka akan berjalan mencari tempat lain. Sampai kaki lelah membawa mereka.
Mereka tidak seberuntung kita. Yang punya rumah. Meski kecil (mungkin hanya 2 kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi) tapi setidaknya kita masih punya tujuan untuk pulang. Namun, satu hal kecil yang kadang kita lupa untuk lakukan. Bersyukur. Bersyukur masih ada tempat berteduh. Bersyukur masih punya tempat untuk melindungi kita dari hujan, panas, atau cuaca dingin.
Negara kita sudah merdeka, katanya. Tetapi, nyatanya belum banyak manusia di negara ini yang bisa menikmatinya. Jadi, bersyukurlah kita yang bisa merasakannya.
Mungkin dengan sedikit berbagi, kita bisa membantu mereka tersenyum!
Jumat, Agustus 05, 2011
Kamis, Agustus 04, 2011
477
Saat selesai sahur dan menunggu adzan Shubuh, aku mencoba membaca Al-qur'an ku yang 'lama' terbengkalai. Tanda al-qur'an itu menunjukkan pada sebuah halaman. Pas kubuka, ternyata surat An-Nisaa. Setelah selesai membaca, tiba-tiba aku ingat sesuatu.
Sahabat yang menjadi saudara perempuanku, Febri Waliulu, sangat menyukai surat ini pada ayat ke 77. Lalu ku buka ulang, dan ku baca terjemahannya.
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia itu hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang bertakwa, kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
Tidak hanya surat itu, ada satu surat lagi yang disukai oleh ebi, begitu aku memanggilnya. Surat 47, surat Muhammad pada ayat ke 7. Sekalian ku buka ayat itu untuk kemudian ku lihat terjemahannya.
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
membaca surat itu, membuatku merindukannya. Berharap suatu hari kami bisa dipertemukan lagi oleh Allah Yang Maha Mengatur Jodoh umatnya.
Rabu, Agustus 03, 2011
Renungan hati 1
Sesungguhnya Allah TIDAK pernah menjauhkan seseorang
Dari apa yang seharusnya dia DAPATKAN...
Jika memang untuknya,
Allah tentu akan mendekatkannya sedekat mungkin
Maka,
Janganlah MENYERAH dalam berusaha meski kadang melelahkan
Walau tak jarang harus menangis
Percayalah KEBAIKAN yang memang Allah TETAPKAN
TIDAK akan pernah TERTUKAR dengan orang lain
**Catatan dari Mbak Hesti (Titi)**
Langganan:
Postingan (Atom)