Selasa, Juli 31, 2012

Magical Ramadhan day#10


Tugas Ramadhan hari ke 10 ini sungguh menyenangkan. Karena kita diajak berimajinasi, seandainya kita punya serbuk ajaib, semisal milik peterpan yang bisa bikin kita terbang dengan pikiran bahagia kita. Tapi bedanya, serbuk ini bukan bikin terbang, melainkan bisa menambah energi dan doa yang kita panjatkan atas orang tersebut bisa dikabulkan. Hebat, kan?

Nah, aturannya, serbuk itu hanya bisa berfungsi ketika kita sangat berterima kasih pada seseorang dan mendoakan dengan tulus bagi orang tersebut.

Oke, saya mulai dari saya bangun tidur sahur, ya.

Serbuk pertama, tentu saja tanpa berpikir panjang saya akan menyebutkan namanya. Ibu. Yang padanyalah surgaku kutitipkan. Kesabaran, ketegaran, dan kegigihannya yang luar biasa untuk membesarkan anak macam kami (saya bersaudara^^) patut diacungi jempol. Cling.. cling... saya taburkan serbuk itu dengan doa semoga Allah senantiasa mendampingi beliau sampai kapanpun. Memberikan extra tenaga, sabar, ikhlas bagi ibuku yang cantik =)

Serbuk kedua, Mbak Mima, pembantu di rumah yang selalu bikin rumah menjadi bersih bersinar (ciee..iklah nih ^^) Nggak pernah mengeluh, bukan karena ini sudah tugasnya, melainkan karena keikhlasan melakukan itu semua sebagai kewajiban. Semangatnya setiap pagi menular padaku, ketika aku mulai lelah dan jenuh dengan pekerjaanku. Menaburkan sambil berdoa semoga Allah memberikan kesehatan dan kebahagiaan baginya dan keluarganya.

Serbuk ketiga, buat pak tukang sampah, yang sudah hampir sepuluh tahun dengan setia dan rela berkotor-kotor ria untuk membawa sampah dari bak-bak sampah depan rumahku. Aku menaburkan serbuk ini seraya berdoa semoga Allah memberinya rejeki yang barokah bagi dia dan keluarganya. Juga untuk pak Mukid, orang tua renta penjual barang dapur (sendok, serok, sikat, gayung, dan sebangsanya) yang tak mengenal lelah memanggul barang tersebut demi mencari rejeki tanpa harus meminta-minta. Aku selalu merasa malu jika bertemu denganmu yang selalu bersemangat dan bersyukur. Sedang aku, masih saja merasa kurang dan kurang. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, untuk pelajaran yang tanpa sadar sudah kau ajarkan untukku. Aku taburkan serbuk ini sebanyak yang aku bisa, demi melihatmu selalu sehat, bahagia, tersenyum, dan selalu dalam penjagaan Allah.

Serbuk keempat, teruntuk pak Ilyas dan pak Edi. OB dikantor yang siap membantu saya mem-fotocopy-kan berkas, membuatkan teh dan kopi, mengambilkan kertas jika saya kehabisan pas lagi nanggung nge-print. Yang selalu tersenyum setiap paginya. Saya taburkan serbuk ini seraya berdoa semoga semangat dan senyum itu nggak pernah hilang dan selalu mereka hadirkan dalam kantor yang memacu stress ini. Terima kasih bantuannya selama ini. Terima kasih untuk senyum tulusnya. Aku berharap, semoga ucapan terima kasih yang tulus, yang kadang kami sampaikan, bisa sedikit membuat senyum dan semangat bapak tetap berkembang. Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kami berikan.

Serbuk kelima, Teman-teman kantor, para penyuluh (Elok, Dinta, Endra, Inggrid) yang selalu tertawa dan stress bersama. Nelongso bareng demi tugas negara J Terima kasih untuk kehadiran kalian dan kebersamaan ini. Serbuk ini kau taburkan sambil terucap doa semoga Kebahagiaan selalu menyelimuti kalian. Selalu sehat bagi keluarga dan orang yang kalian cintai.

Hm, belum puas rasanya berbagi bahagia. Serbuknya juga nggak habis-habis, sih J
Aku mau terbang saja ke Makassar dan menaburkan serbuk ini pada saudara terhebatku, nadeth birana. I miss her so much. Doaku semoga dimanapun dan apapun yang dilakukan, dia selalu dalam lindungan-Nya, selalu sehat dan bahagia. GBU, sist.
Terus, lanjut terbang ke Ambon, bertemu dengan ‘istriku’ Febry Waliulu, Chalied, Caca, Keluarga besar Waliulu. Semoga serbuk yang kutaburkan membawa kebahagiaan dunia akhirat untuk seluruh saudaraku di Ambon ini. Miss u soo.... Berharap suatu hari bisa bertemu.

Terbang lagi ke Ciloto. Di hotel Lembah Hijau yang aku huni lima bulan. Bertemu dengan orang-orang yang bisa membuatku nyaman dan betah dengan alam baru. Pak Asep, security yang murah senyum. Mas Cleaning Service, yang selalu sabar membereskan kamar yang aku berantakin. Mas dan Mbak di resto, yang siap memenuhi menu yang kami inginkan. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Naik busway keliling Jakarta. Menaburkan serbuk untuk bang Roe, acha, nizka, zamah. Terima kasih untuk kebaikan yang sudah kalian tabur dan berimbas luar biasa bagiku. Serbuk ini, semoga kebahagiaan dan kebaikan selalu menyelimuti kalian, Saudaraku.

Kemudian, mungkin serbuk yang masih banyak aku gunakan untuk menaburi sahabat-sahabat yang tak terkira jumlahnya, yang kehadirannya membawa makan masing-masing dalam hidupku. Aku doakan semoga kebahagiaan selalu menyertai hidup mereka. Bagi yang belum menikah, semga cepat dapat jodoh. Bagi yang sudah menikah tapi belum dapat momongan, semoga Allah mengaruniai seorang bayi. Bagi yang keluarga kecilnya sudah lengkap, semoga Allah selalu menjaga mereka. 

Lalu, untuk dia-yang-namanya-tak-boleh-kusebut (hahay...) Terima kasih untuk ‘pelajaran menjadi dewasa’ yang kau ajarkan buatku. Sengaja atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar. Serbuk ini kutabur dengan doa semoga kaupun selalu bahagia.

Alhamdulillah Ya Allah
Alhamdulillah Ya Rabb
Alhamdulillan Ya Rahman Ya Rohim

NB. Syukur hari ini:
-          Alhamdulillah bisa beli meja lipat, jadi kalau ngaji nggak lagi bungkuk dan bisa lebih lama
-          Alhamdulillah bisa beliin adik pulpen, nggak seberapa sih, tapi semoga berguna J
-          Alhamdulillah jam delapan malam, tukang potong langganan masih buka, jadi bisa potong rambut
-          Alhamdulillah bisa telepon Nadeth
-          Alhamdulillah punya waktu buat nge-pel rumah
-          Alhamdulillah tulisan udah mau kelar

Senin, Juli 30, 2012

Magical Ramadhan Day#9

Pe-er day#9 >>> Mengucap syukur alhamdulillah di setiap peristiwa hari ini. 
Sebuah kalimat yang menurut saya sungguh bagus dari blog magical-project 
  
"Hati yang penuh syukur adalah obat dari segala penyakit dan kunci utama dari berbagai pintu kebahagiaan."
Hati yang penuh syukur? Bisakah kita punya hati seperti itu? Manusia tak pernah luput sih, dari yang namanya mengeluh. Bahkan sehari atau mungkin sejam saja, bisa dijamin sedikit banyak kita mengeluh. Entah mengeluh karena keadaan atau karena diri sendiri.
Hati yang penuh syukur menjadi kunci utama dalam kebahagiaan. Menurutku juga demikian. Malah dulu disandingkan dengan ikhlas, karena syukur selalu menghadirkan ikhlas. Namun sebersih apakah hati ini hingga tak sanggup mengeluh? Manusia-benarkah tak ada apenyakit dalam hati kita, meskipun sekecil biji sawi? Bahkan ketika kita mengatakan bahwa teladan kita adalah Nabi Muhammad SAW yang tak punya sedikit pun penyakit hati, yang hatinya selalu bersih-penuh syukur dan ikhlas- tetap saja kita tak bisa sepenuhnya punya hati seperti beliau. Namun kita bisa belajar. 

Hm, tugas rumah kali ini memang susah buat saya. Karena saya yakin seyakin-yakinnya dan sadar sesadar-sadarnya bahwa saya masih sering mengeluh dan kurang bersyukur. Padahal Allah sangat menyukai dan merahmati makhluknya yang penuh syukur.  Saya terus belajar untuk selalu bersyukur dengan apa yang sudah Allah titipkan pada saya. Apapun titipan itu. Sakit atau senang, saya belajar untuk mensyukurinya. Saya berharap suatu hari nanti saya bisa menjadi orang yang mudah bersyukur, tak ada lagi penyakit hati yang bernaung dalam organ yang diberikan Allah.
Subhanallah... semoga Allah meridhoi usaha saya. Menjadikan manusia yang tidak mengeluh dan selalu bersyukur hingga mendapat keberkahan dan kebahagiaan dari Sang Maha Syukur.

Alhamdulillah Ya Allah
Alhamdulillah Ya Rabb
Alhamdulillah Ya Syakuur
NB. syukur untuk hari ini
- Alhamdulillah bisa sahur sama sate buatan bapak 
- Alhamdulillah bisa belajar bareng sama adik-adik panti
- Alhamdulillah bisa telepon saudara di Makassar jadi bisa cerita-cerita
- Alhamdulillah meski tidur pulas, sama Allah masih dibangunkan tepat waktu buat sholat
- Alhamdulillah bisa ngaji bareng adik panti sampai satu juz


Magical Ramadhan Day#8

Hahaha, baru juga mulai ikutan kemarin, sudah telat untuk pe-er berikutnya ini. Ini lantaran aku ngintip tugas dari tetangga sebelas sih, hehehe [maaf ya dwi, aku nyontek judulnya =)]

Tugas kali ini temanya “I Love You, My Self!
Allah beri aku diri yang seutuh dan sesempurna ini, sudahkah aku bersyukur atas senang dan susah hidupku?-MagicalProject

Okay, kita mulai saja ya. Hm, mencintai diri sendiri. Orang kebanyakan sering berkata bahwa jika kau ingin dicintai oleh orang lain, maka cintailah dirimu sendiri dulu. Karena bagaimana orang bisa cinta sama kita, kalau kitanya sendiri nggak cinta. Iya , nggak? *Sok tau ya. Well, meski sebenarnya nggak semudah itu. Mencintai diri kita sama dengan menerima apa yang kita punya. Orang bilang apa adanya. Dan kadang, tingkat cinta kita terhadap diri sendiri dibandingkan pada pasangan justru lebih rendah. Kadang kita lebih memilih untuk membahagiakan pasangan dibandingkan diri sendiri. Ya, sedikit banyak seperti itulah. =)
Yang jelas, kita biasanya lebih mendahulukan mencintai orang lain, kemudian berkorban untuk membahagiakan dia yang kita cinta, dan itulah kesalahan. Hm, harusnya kita mencintai diri kitan sendiri dulu, baru orang lain akan mengikuti.^^

Sejak beberapa bulan lampau, ketika menyadari bahwa mencintai orang berlebihan itu salah, aku mulai belajar untuk lebih mendahulukan diriku. Sejak berpisah dengan dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut-hahaha-aku mulai berbenah diri. *cieee
Aku mulai banyak intropeksi diriku sendiri, mulai belajar juga bagaimana bangkit dan bersyukur dengan apa yang Allah kasih padaku. Bersyukur bahwa Allah nggak pernah meninggalkanku, dan selalu menyediakan apa yang kubutuhkan. Badan yang sehat, sempurna-menurutku-, pikiran dan akal yang baik-walau kadang cenderung licik, hahaha, dan jiwa yang bahagia.
a. aku bersyukur memiliki sifat easy going, meski kadang bikin orang kesel dan iri (hahay) tapi dengan sifat itu, aku lebih bisa membawa diri santai. Tak terlalu terbawa omongan orang yang kadang nggak enak di kantor.
b. aku bersyukur menjadi manusia yang gampang tersenyum, hingga kadang bisa membawa kesenangan juga bagi beberapa teman yang sedih. Semoga selamanya bisa begini.
c. aku bersyukur punya sifat seperti lelaki alias tomboy, karena dengan begitu aku punya teman yang luar biasa banyak. Dengan sifat tomboy, aku bisa lebih mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Dan kebanyakan teman-teman selalu mencariku untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Nyambung nggak sih? =)
d. aku bersyukur memiliki sifat yang sensitif dan gampang iba, hingga aku bisa menangis hanya karena hal sepele meski nggak bisa juga dibilang cengeng =) Hanya saja, aku lebih mudah tersentuh.
e. aku bersyukur tak punya sifat pendendam hingga nggak pernah aku marah sama orang lebih dari sehari
f. aku bersyukur mempunyai ilmu yang sedikit ini, sehingga tetap dengan kerendahan hati mencari ilmu yang lain. Alhamdulillah, semoga yang sedikit ini menjadi bermanfaat bagi sesama. Amin.
g. aku bersyukur menjadi penyuluh dan berada di antara teman-teman yang hebat. Walau kerjanya itu lebih banyak dihabiskan di lapangan, jarang dikantor, dan harus ke pelosok-pelosok, tapi aku bersyukur alhamdulillah sekali, karena aku jadi kenal dengan begitu banyak jenis manusia. Manusia pelosok yang polos, dan jauh dari kengerian kota. Dengan polosnya mereka selalu menyambut kami selayaknya keluarga, dan dari mereka aku belajar untuk menghargai dan mencintai sesama. Jarak menjadi hal terakhir yang kami pikirkan demi mereka.
h. aku bersyukur menjadi bagian dalam keluarga ini. Bapak, ibu dan dua adikku yang mempesona. Kadang membuatku marah, jengkel, sebal, ngambek, tertawa, menangis, dan aku sangat mencintai mereka. Mereka adalah alasan yang bisa membuatku bangkit, dan berusaha.
i. aku bersyukur dikatakan jomblo atau single fighter. Karena sebenarnya aku menunggu pilihan Allah yang entah kapan akan diberikan padaku. Tentunya diwaktu yang tepat. Dan tentunya juga dia adalah yang terbaik.
j. aku bersyukur dikatakan polos dan lugu, karena dengan begitu aku nggak akan pernah mempunyai pikiran negatif pada orang lain. Dan semoga Kepositifan itu juga membawa aura yang positif bagi diri dan lingkungan.
k. aku bersyukur bisa berteman dengan siapa saja, menerima siapapun yang ingin berteman denganku, aku bersyukur memiliki teman yang sangat banyak hingga tak pernah kesusahan bagiku untuk berbagi.
l. aku bersyukur mempunyai sifat yang ceroboh, karena dengan begitu aku akan menjadi manusia yang belajar untuk selalu berhati-hati.
m. aku bersyukur mempunyai sifat keras kepala dan kadang tidak mau mengalah. Karena dengan itu, Allah memberiku kesempatan untuk belajar menghargai pendapat orang lain. Memahami bahwa tidak melulu pendapat kita yang benar
n. aku bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk bersyukur dan selalu bersyukur. Melahirkan hati yang penuh syukur dan menyadarkan pikiran untuk selalu berterima kasih pada-Nya, Dzat Pemberi Nikmat. Aku bersyukur aku adalah aku, lengkap dengan kekurangan dan kelebihanku. Aku bersyukur, dengan kelebihanku semoga bisa berguna untuk orang lain. Aku beryukur dengan kekuranganku, Allah menjauhkan ku dari sifat sombong dan menyadarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
I LOVE U, MY SELF!!!
Alhamdulillah Ya Allah
Alhamdulillah Ya Rabb
Alahmdulillan Ya Rahman Ar Rohim
NB. : 
- Alhamdulillah bisa sholat Dhuha delapan rakaat plus ngaji 
- Alhamdulillah bisa sholat tepat waktu
- Alhamdulillah hari ini bisa buka bareng dengan adik-adik panti asuhan, 
- Dapat kenalan baru (Mb. Lilik yang jago masakan, Mb. Ratih yang calon guru, adik Ratna, adik Rizka). Oia, untuk mbak ratih, seneng bisa kenal, jadi kalau aku ada acara bisa minjem mangkok buat es buahnya =D
- Alhamdulillah bisa bungkus makanan yang sisa pas buka bersama tadi jadi nanti sahur nggak perlu masak
- Alhamdulillah kebagian es jus strawberry, jadi besok pas puasa nggak mupeng *muka pengen

(337) Aku tak ingin mengeluh lagi :)

Aku tak lagi ingin mengeluh, Tuhan. Aku sedang belajar menerima Ketetapan-Mu Yang Maha Tahu mana yang terbaik bagiku dan kehidupanku. Aku sedang berusaha untuk belajar meyakini, bahwa apapun yang terjadi padaku, itu memang sudah seharusnya. Dan saat itu, aku bisa berhenti khawatir, karena Tuhan tak akan membiarkanku sendirian. 

Aku berharap atau mungkin lebih tepatnya ingin memiliki keyakinan kepada-Mu sekuat yang dia miliki. Dia , seseorang yang membuatku belajar, bahwa semua yang berjalan di bumi ini sudah ada tulisannya di Lauhul Mahfudz. Tinggal kita menjalaninya dengan doa dan usaha. Dia, seseorang yang membuatku belajar untuk selalu menunaikan kewajibanku sebagai manusia kepada Tuhanku. Belajar bersujud lebih lama, untuk memohon ampun, dan belajar menerima segalanya sebagai pelajaran seraya mencoba melihat setiap hikmah yang tersirat ataupun tersurat dibelakangnya. Dia juga yang membuatku lebih sering menegakkan sholat Istikharah, yang awalnya mungkin untuknya, namun lama-kelamaan menjadi sesuatu 'kewajiban' baru untuk memperoleh petunjuk-Nya agar aku tak lagi salah langka.

Ya Rabb, aku bersyukur atas apa yang telah Kau berikan hingga saat ini. Ketika aku mengira aku telah jatuh dan Kau mencampakkanku, ternyata Kau hadir dengan warna dan semangat lain. Kau menumbuhkan diriku, hatiku, jiwaku, dan semua yang ada padaku, untuk menjadi manusia yang selangkah lebih maju, selangkah lebih baik. Aku bersyukur Kau telah mengenalkan rasa sakit hati, sehingga aku lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Aku bersyukur Kau telah mengenalkan air mata, hingga aku bisa lebih mencintai sebuah senyuman. 

Terima kasih, Ya Rabb.

Jumat, Juli 27, 2012

Magical Ramadhan Day#7

Kemarin, aku membaca sebuah blog dari sahabat. Isinya tentang tulisan-tulisan yang diposting khusus untuk bulan Ramadhan ini. Judulnya sih Magical Ramadhan, tapi temanya tiap hari berbeda. Tertarik? Iya. Menuliskan sesuatu yang terjadi seharian selalu menarik, kan? Nah, akhirnya, baru mulai saat day#7 ini. Kali ini temanya, tuliskan hal yang paling berat dan hikmahnya.
Ups, begitu mau nulis langsung dapat pe-er yang 'sulit'. Atau bisa dibilang susah-susah gampang. Kenapa begitu? Iyalah, sesuatu peristiwa dikatakan sulit atau mudah kan tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Yang pasti semua kejadian, semua peristiwa dan semua yang terjadi pastilah ada hikmahnya. Bisa langsung kita dapatkan saat itu juga, atau Allah menguji kesabaran kita dengan memberikan hikmah itu beberapa waktu yang akan datang. Dan memang untuk memahami hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.

Perpisahan dengan seorang  calon suami misalnya. Bayangkan, tinggal menghitung hari pernikahan digelar dan penyempurnaan Dien terjadi, namun ternyata Tangan Tuhan Menuliskan jalan lain. Aku harus menuntut ilmu yang akhirnya berakibatkan pada batalnya acara itu. BATAL, bukan ditunda. Entah kenapa saat itu aku memilih untuk sekolah, yang waktunya hanya 6 bulan. Karena gratis kah? Atau karena kesempatan itu tidak datang dua kali??

Awalnya, aku menganggap bahwa apa yang kualami adalah hal yang paling berat. Merasa aku menjadi orang paling merana. Allah mengujiku terlalu berat. Ya, saat itu aku merasa seperti itu. Depresi kronis, stres tingkat akut, sampia harus pergi bolak-balik ke pondok pesantren karena takutnya berdampak berlebihan.

Aku merasa buruk saat itu. Menyalahkan diri sendiri yang telah menyakiti banyak orang. Dan rasa takut itu membludak ketika aku sadar bahwa menyakiti saudara sesama muslim, artinya menyakiti Nabi kita, Muhammad SAW. Tiap sholat aku selalu meneteskan air mata mohon ampun. Banyak juga nasehat dari teman-teman yang memang benar-benar bersimpati, yang banyak membantu.
Namun ternyata apa yang kurasakan selama ini hanya kamuflase sesaat. Beberapa bulan kemudian kau bangkit. Mulai kembali belajar berjalan, meski tertatih. Belajar menebar senyum kembali, sembari mengobati sakit ini. Dan tiap kali merenung dalam heningnya malam, aku mulai merakan banyak hal yang Allah kasih untukku. Untuk mengganti rasa sakitku kemarin. Dan aku semakin merasakan betapa tiap saat aku merindukan untuk bersujud pada-Nya, meski mungkin sujud itu kulakukan saat aku membutuhkan-Nya. Karena memang aku membutuhkan-Nya. Kita semua membutuhkan-Nya, kan?
Pertama hal yang paling kusyukuri adalah aku memutuskan mengambil gratisan sekolah itu. Karena dengan itu, sekarang aku mengajar banyak IKM dengan ilmu baru yang kudapat selama 6 bulan. Banyak orang-orang IKM yang menyayangiku. Memintaku untuk selalu datang sekedar berbincang dan bertukar pendapat, atau sekedar untuk mencicipi keripik buatan mereka. Satu lagi, dengan mengenal mereka, aku sering dapat keripik gratis, atau potongan harga saat beli batik hasil karya mereka =D
Lebih banyak kesempatan belajar dari mereka tetang kerja keras. 
Kemudian aku menyadari bahwa ternyata keluargaku tak pernah putus doa untukku. Menyayangi dan perhatiannya yang luar biasa yang tidak pernah berhenti. Dulu aku tidak pernah peduli dengan apa yang mereka ucapkan, namun dengan peristiwa ini, aku sadar apapun yang mereka lakukan dan katakan, semua semata untu kebaikan dan kebahagianku. Meski kadang aku masih sering salah paham. Dan aku merasakan, aku mulai dekat dengan mereka, dan semakin dekat.
Terus, aku menyadari bahwa ternyata banyak sahabat yang luar biasa yang berkenan memberikan sedikit waktunya untuk menjadi 'tong sampah' bagi curhatku. Tidak pernah bosan dengan ke-galau-an dan ke-lebay-an ku yang tidak jelas. Mereka ada buatku kapanpun aku butuh.
Lalu, aku juga punya kesempatan untuk mengenal kehidupan pondok. Dan saat ini, jika aku merasa butuh bimbingan, aku tahu harus kemana. Kenalan juga dengan komunitas Rumah Perubahan,  Komunitas luar biasa yang bergerak dalam pengabdian untuk anak-anak Yatim. Belajar banyak hal dari mereka, terutama bagaimana bersyukur dengan apa yang sudah Allah tetapkan bagi kita.

Terus, aku juga punya waktu 'mempercantik diri' *hahah-lebay* yang jarang bisa kulakukan dulu. Maksudnya lebih pada memanjakan diri. Aku juga santai-santai saat mau kemana-mana. Ijin juga sama ortu doang. Hm, apa lagi ya?? Banyak sih. Aku bersyukur untuk semua ini. Subhanallah... Alhamdulillah. Sungguh, Skenario yang luar dari Sang Maha Hidup. 
Saat ini aku hanya berusaha untuk terus menanamkan bahwa segala sesuatu sudah ada dalam Lauhul Mahfudz. Tak ada bagi kita untuk mengkhawatirkannya. Yakin pada Yang Maha Mencintai itu lebih nikmat saat ini. Ya, rejeki, jodoh, hidup dan mati, Allah yang punya hak. Kita hanya perlu menyiapkan diri untuk itu semua. Rencana-Nya adalah yang terbaik bagi umat-Nya.
Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba itu sendiri. Nah, jika Allah saja yakin kita mampu melaluinya, kenapa kita sendiri meragukannya?
Alhamdulillah Ya Allah
Alhamdulillah Ya Rabb
Alhamdulillah Ya Rahman Ar Rohim

(335) Mulai mengigau.

Aku mulai mengigau. 
Ya, mulai sering mengigau. 
Kau tahu? Ketika kau bicara dalam tidurmu. Atau tidak ada kesambungan antara jawabanmu dengan pertanyaan sesorang yang diajukan ketika kau bangun tidur. 
Aku masih dalam tahap itu. Belum terlalu parah, seperti berjalan dalam tidur misalnya.
Ugh, semoga tidak sampai seperti itu. 
Biasanya, sih mengigau disebabkan oleh minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum tidur, obat-obatan tertentu, sakit demam yang tinggi, atau stress. Dalam kasusku, faktor penyebab paling sederhana adalah stres. Mungkin karena beberapa kegiatan yang saking dipikirkan, jadi kebawa sampai tidur.

Secara umum, tidur manusia terdiri dari dua tipe: REM (Rapid Eye Movement) dan NREM (Non Rapid Eye Movement). Tidur jenis REM bukanlah tidur yang dalam, karena disertai pergerakan bola mata yang cepat di balik kelopak mata. Meski demikian kadang disertai gerakan-gerakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki, tidur jenis REM tetap terjadi di luar kesadaran. Dalam tidur jenis ini, tubuh beristirahat, tetapi otak tetap bekerja. Mimpi atau mengigau biasanya hadir di dalam tidur jenis ini. 
Sedangkan tidur jenis NREM bisa dikatakan sebagai tidur nyenyak. Dalam tidur jenis ini, tidak hanya tubuh yang beristirahat, tapi juga pikiran. Tidur jenis ini dibagi menjadi dua kategori, NREM Light Sleep dan NREM Deep Sleep. NREM Deep Sleep adalah jenis tidur dengan kualitas terbaik bagi manusia.
Satu lagi hal yang mengakibatkan mengigau dalam tidur, yaitu terlalu banyak kafein. Mungkin beberapa orang beranggapan bahwa kafein itu bisa membuat mata anti kantuk. Iya, dan tidak. Bagi aku sih nggak terlalu berpengaruh. Tapi itu dulu, sekarang karena hampir sering mengigau, sepertinya meminum kafein perlu diperhitungkan juga untuk dikurangi.
Well, kafein dan tidur... kayaknya harus dikurangi, deh ^^

Kamis, Juli 26, 2012

Hari Ini, Setahun Lalu, Kita Berpisah

Hari ini tepat setahun yang lalu perpisahan kami. Pukul delapan pagi, kami dikumpulkan dengan perasaan tak menentu di sebuah ruangan gedung yang besar. Perasaan yang berbeda meski sama tak menentunya dengan lima bulan sebelumnya. Kalau lima bulan sebelumnya, perasaan itu lebih karena memasuki dunia dan suasana baru. Sekarang perasaan itu lebih berarti bahwa aku akan keluar dari dunia dan suasana yang selama lima bulan ini sudah membantu 'pertumbuhan'ku.
Akan banyak nama yang tinggal dan menetap diruang hati ini, sebagai bagian dari proses suatu pendewasaan. Dan aku yakin, nama itu sebagian akan menetap selamanya. 
Febry Waliulu, perempuan sahaja nan luar biasa, adalah nama pertama yang kusebut, yang namanya bisa aku jamin tak akan pernah aku lupakan. Dia, membantuku menghapus sebagian sifat burukku, selalu berbagi tawa dan ucapan yang menyejukkan. Aku ingat ketika kita jalan-jalan ke pasar Cipanas, cuma untuk cari suasana baru, setelah seminggu bertatap muka dengan pelajaran. Aku ingat ketika hari ulang tahunku yang ke-26, kamu ikutan menyiram tepung, telur, dan air. Bukan dengan jengkel, melainkan dengan rasa sayang yang sangat. Dan aku merasakannya. Aku ingat ketika minggu-minggu terakhir, kita sering main kartu UNO. Dengan tawa, yang saking semangatnya, sampai membahana di lorong lantai dua.  Eby, aku merindukan itu. Kapan bisa kayak gitu lagi, ya? ^_*
Niskha Sandriana, perempuan cerdas yang bijak. Teman sekamar yang namanya sudah terpaten dalam hatiku.  Dia tak pernah marah meski aku sangat cerewet dan kadang menunjukkan rasa kesal padanya. Dia tetap bijak, seolah dia memang tahu, bahwa dia tengah menghadapi anak kecil yang berjiwa labil. Mungkin karena dia sudah mempunyai buntut 3 orang ya?? Hahaha. Aku sangat merindukannya. Aku ingat saat dia menelpon anak-anak dan suaminya, betapa keibuannya yang luar biasa membuatku iri dan cemburu. Aku ingat ketika dia mengajariku tentang pelajaran-pelajaran di tempat itu dengan sangat sabar. Membantuku juga 'sembuh' dari penyakit masa lalu, beradaptasi dengan tempat yang baru. Really, i miss her so much....^^

Bang Ben, seorang yang awalnya tidak kusukai karena sifatnya yang terlalu seenaknya sendiri dengan kepedean tingkat tinggi, namun berbalik menjadi orang yang paling kusukai sata aku sudah mengenalnya dan menghabiskan waktu banyak bersamanya sepeninggal Nadeth birana. Aku ingat setiap ceritanya tentang Cece-istrinya, dan harapannya untuk segera mempunyai momongan. Aku selalu mendoakan itu, bang. Aku ingat kita selalu cari lalapan di cipanas, meski jaraknya tidak dekat dari lembah hijau. Aku ingat kita makan di saung, pas gerimis, setelah beli lalapan dan minta nasi di resto hotel. Aku ingat, hari terakhir, bang ben selalu menemaniku.

Masih banyak nama yang tak mungkin tersebut di sini. Terlalu panjang untuk menjabarkannya. Ada bang Zap, lelaki dewasa yang membuatku merasa nyaman bagai anaknya. Omongannya juga selalu lucu disertai tingkah polahnya yang kadang nggak masuk akal, hahaha. Bang Allone, seorang kakak laki-laki bagiku. Hubungan intimnya dengan komputer, atau benda elektronik lainnya, membuat dia menjadi tempat bagiku untuk belajar masalah komputer. Dia sering juga menemaniku kemanapun aku mau. Selalu membuatku santai dengan sifat santainya. Bang Tewe, kesabarannya yang selalu meau mendengarkan keluh kesahku, curhatku yang nggak jelas, dan tiada henti memberiku nasehat.

Subhanallah, ketika aku mengingat semua itu, air mata selalu menetes, menghamba dan mengharap dapat bertemu lagi dengan orang-orang yang luar biasa itu. Ya, niat yang tulus, disertai keyakinan bahwa apapun bisa terjadi, InsyaAllah Allah akan memudahkan jalannya. Membantu mempertemukan silahturahmi itu suatu hari nanti.

Semoga secepatnya kita bisa bertemu, saudaraku.

(333) Masih dia...

Aku mengingatnya kembali. Di sela-sela tumpukan kertas dan kesibukan kantor. Namanya, entah kenapa tidak pernah bisa lekang atau pergi. Dia yang selalu membuatku ingat betapa Maha Besarnya Allah itu. Dan saya berharap, suatu hari nanti, entah kapan, saya bisa memiliki keyakinan terhadap Allah sekuat rasa yakinnya dia pada Sang Pencipta Yang Maha Luar Biasa.

Senin, Juli 23, 2012

(330) Tulisanku di koran..... Terbit!!!

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya dua minggu lalu, seorang teman yang bekerja di salah satu surat kabar di Surabaya, menawari saya untuk menulis sebuah artikel di tempat kerjanya. Tentu saja itu kesempatan yang luar biasa untuk saya, yang selama ini memang belum pernah merasakan nulis di surat kabar. Kebanyakan sih, saya nulis untuk konsumsi pribadi, untuk majalah, dan rencana sih ingin punya novel sendiri ^_*
Waktu dia nawari itu, saya nanya, saya harus nulis apa? Ada pakemnya nggak? Dan dia bilang, saya bisa nulis tentang sebuah tempat wisata yang ada di daerah saya. Karena tulisan itu nantinya akan masuk dalam rubrik wisata. Tidak ada ikatan atau pakem untuk membuat tulisan itu. 
Pikir-pikir, bisa nggak ya? Bukan karena saya nggak bisa nulis tentang obyek wisata, tapi memang selain nggak pernah, saya juga nggak tahu obyek wisata apa yang mau saya tulis. Di Lumajang sih banyak tempat buat refreshing, tapi tentu saja skalanya rakyat menengah, tempatnya juga nggak seindah Kuta, Losari atau daerah wisata yang sering muncul di tivi. Mungkin peran tangan manusia kurang untuk pengembangannya. 
Aih, apa dong?? Kesempatan nulis nih nggak boleh disia-siakan. Kata beberapa 'pakar' sih, seseorang baru bisa dikatakan bisa 'menulis' ketika dia bisa menembus sebuah koran. Nah, saya hanya ingin mencoba saja, apakah tulisan saya bisa layak buat masuk koran.
Aha!! muncul ide untuk menulis ini. Bukan sebuah tempat rekreasi atau wisata alam, melainkan wisata sejarah. Sebuah tempat yang menyimpan masa lalu kota Lumajang. Setelah beberapa hari membuat tulisan ini, akhirnya pas hari ke enam, kelar juga tulisan yang saya beri judul "SITUS BITING ; MEREKAM JEJAK KOTA LAMAJANG"
Dan.. Taraaaaa!!! Muncul deh di koran hari ini. 
Menulis memang menyenangkan, kan? Asal kita mau saja menyempatkan barang semenit-dua menit untuk bereksperimen dengan alat tulis kita. Nggak peduli bagus atau jelek, sebuah tulisan tetap mempunyai makna.
Tetap semangat menulis, ya!!

Jumat, Juli 20, 2012

(328) Akhirnya puasa

Akhirnya Puasa!!!!
Pengen cepet-cepet bikin sesuatu yang baik, hehehe. Pengen cepet-cepet berebut tempat untuk sholat Taraweh. Pengen ngrasain rasanya kantuk yang luar biasa waktu bangun sahur, atau pas ada di kantor. Semuanya itu nggak tau kenapa kok rasanya nikmat banget. 
Pengalaman lucu nih, hari ini kan pertama puasa. Saya benar-benar lupa kalau saya puasa. Pas nyuapin ponakan yang usianya masih 20 bulan, tiba-tiba saya ikut makan ikannya. Kebetulan karena ikan mujair, dekat insang kan gurih banget. Ya sudah, saya enak saja makan ikan itu sambil memilih dan memilah suapan buat adek kecil.
Sampai teguran dan adik laki-laki saya menyadarkan bahwa hari ini saya puasa. Astaghfirullah, ada apa ini? Kok bisa-bisanya saya lupa, ya?? Semoga Allah memaafkan.
Tapi, ya sudahlah, Subhanallah saja. Saya anggap ini hadiah dari Allah, hehehe. 
Istimewa dari bulan ramadhan adalah ada sholat tarawehnya. Meski banyak rakaat, tapi karena ngerjainnya bareng-bareng dengan banyak orang, malah kelihatan menyenangkan. Dan selalu membludak jamaahnya ketika awal-awal puasa. Dan bener aja, masjid ini jadi super sesak karena kebanyakan jamaah. Maklumlah, masih hari-hari awal. Nanti lama kelamaan akan berkurang dengan sendirinya. Karpet di halaman masjid mulai digulung, shaf-shaf mulai maju, dan yang penuh ganti mal-mal atau toko pakaian. Paling yang tinggal hanya para manula yang sudah mendekatkan diri dengan Allah dan anak-anak sekolah yang datang taraweh demi dapat tanda tangan sang imam untuk buku ramadhannya.

By the way, eniwey, yang penting puasa sudah dimulai. Hal yang paling membuatku berdebar adalah waktu menanti malam Lailatu Qodar. Malam seribu bulan yang adanya cuma pas puasa/bulan Ramadhan. Kira-kira Allah memberkahiku untuk dapat itu ga ya? Oia, ditambah lagi ada sholat taubat di minggu terakhir. Semoga, semoga, semoga... saya dapat keduanya. Amin.

(327) Puasa, jadi atau nggak?

Saya kira hari ini puasa pertama, ternyata ditunda sampai besok. Pemerintah yang ngumumin kemarin sore. Padahal, mengingat kemarin malam kami sekeluarga begitu antusias dengan semangat empat lima bersiap mau sholat isya' dan taraweh di masjid. Eh, tiba-tiba kumandang suara di televisi membuat kami mengurungkan niat pergi ke masjid.

Jujur sih, kami memang jarang sholat di masjid. Hampir nggak pernah malah. Kami lebih enak saja sholat sendiri di rumah. Nah, kalau bulan Ramadhan, beda lagi. Lebih enak di masjid. Nggak tau kenapa. Kayak dapat aja feelnya, hehehe. 

Arrgh... besok, cepatlah datang. 
Oia, tambahan saja... Mohon maaf lahir batin ya, menjelang bulan puasa. Semoga amal dan kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT dan mendapat selalu berkah Ramadhan. Amin.

(326) Refreshing para penyuluh

Hari ini pertama kalinya para penyuluh, yang terdiri dari lima orang (karena minus 2 orang -mas apri dan mas ari) yaitu saya sendiri, elok, endro, dinta, dan satu lagi anak TPL-Inggrid jalan-jalan ke Pantai Bambang. Lebih tepatnya pertama kalinya para penyuluh refreshing dan keluar dari kantor tanpa ada urusan pekerjaan. 
Awalnya rencana ini mau dilakukan pada awal bulan Juli. Tapi, karena masih ribet dengan ini - itu, maka baru terlaksana hari ini. Itupun 'dipaksakan' untuk dapatnya dilaksanakan sebelum puasa besok. Tujuan awal pun bukan pantai Bambang, melainkan TPI alias Tempat Pelelangan Ikan di Tempursari dan Pantai Bulurejo. Tapi, karena kondisi baru hujan seharian kemarin, menurut info yang didapat, jalanan menuju kesana licin, dan kemungkinan tidak ada ikan bakar karena tidak ada nelayan yang berani melaut.

Setelah debat dan jajak pendapat setelah beberapa menit, akhirnya pantai bambang lah yang menjadi pemenangnya. Pukul dua siang, kami berlima berangkat. Sampai disana pukul setengah tiga lebih, kami langsung main air. Yaaaa, maklumlah, sembari berbecek-becek ria, kami juga melepas stress. Air laut mungkin bisa membantu. 

Karena ga ada makanan yang dijual, ya tidak ada yang makan. Jadi disana cuma main air doang. Tapi, lumayan menyantaikan pikiran-lah. Planning refresh mulai saat ini akan dijadwalkan bagi penyuluh. Tidak peduli kemana, yang penting bisa sedikit membantu bersenang-senang, \(^__^)/

Rabu, Juli 18, 2012

Kado untuk Acha, Senja yang Cantik

Hmmmm, ketukan pensil di meja... ketukan jari yang tak jelas di atas keyboard. Keduanya menunggu satu cerita datang agar bisa ditulis. Cerita yang mengungkapmu, mendefinisikan dirimu... cerita yang, ehmm... berbicara tentangmu.
Senja... hm, selalu seperti ini saat harus menjelaskan apa engkau sebenarnya. Bingung. Karena kadang tak ada kata dalam kamus yang bisa kugunakan untukmu. Terlalu indah. Hamparan permadani merahnya di sore hari karena leburan sinar mentari selalu memukau setiap mata memandang. Seperti ada lautan di atas sana.
Aku mengatakan kau sama dengan sebuah Senja. Mengaggumkan. Meski selalu ada kelemahan dalam dirimu. Karena tak ada manusia yang sempurna. Tapi, kebijakan yang ada, membuatmu mampu menundukkan diri untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang kau perbuat, sebagai manusia.
Kenanganku berkeliaran pada setahun yang lampau. Ketika di suatu malam, saat aku memutuskan untuk bertemu dengan seorang perempuan yang juga sama luar biasanya, aku dipertemukan dengan mu, wahai Senja. Tanggal 24 Juli 2011, pertama kalinya kita meneguk kopi bersama di sebuah tempat, yang mungkin suatu hari akan kita datangi lagi.
Meskipun hanya sehari, oh, bukan... kurang dari sehari malah, hanya beberapa jam saja kita berbincang dan saling mengenal, namun aku merasakan bahwa hatiku dan diriku sudah tak sama lagi karena kehadiranmu. Mendapatkan saudara sepertimu yang bisa membuat tersenyum. Namun laiknya manusia biasa, kamupun punya rasa jengkel, ngambek dan marah. Tapi, kau tetap mampu menahannya. Setengah darah Ambon yang kau miliki, menciptakanmu menjadi pribadi yang tangguh, manis, dan kadang keras kepala. Sisa darahmu yang berjudul Jawa, memberikan karakter lain yang bertolakbelakang namun serasi denganmu.
Persahabatan dan persaudaraan denganmu semakin istimewa ketika kau datang ke Surabaya. Tak terkira hatiku rasanya mendengar bahwa kau akan datang pada saat weekend. Tanpa berpikir lagi, akupun menghampirimu, meski harus menempuh hampir enam jam perjalanan. Bagiku itu sepadan. Dan satu mimpiku, telah berwujud nyata. Dari mimpi itu, lahirlah mimpi yang lain. Janji akan bertemu lagi di tanah Ambon, atau mungkin travelling bersama. Aku harap Allah Sang Maha Penentu Hidup akan mewujudkannya satu demi satu.
Kau senja yang cantik. Kau senja yang tangguh. Kau senja Keriting yang luar biasa, hahaha. Si Hitam Manis yang mempesona. Tetaplah merekah dengan keindahan dan kedewasaanmu, Manis. Tetaplah hadir sebagai hal paling indah di akhir hari, saat sore pamit pulang dan malam mulai mengetuk.
Jika gerimis terjadi saat senja adalah hal yang indah, karena kalian menjadi satu, maka pelangi (berharap) akan melengkapi keindahan setiap petang.
Selamat Ulang Tahun, Cantik. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagimu, dunia dan akhirat. 

 
*Ditulis untuk Anastasia Tomasouw (Acha) sebagai hadiah ulang tahunnya. Meski terlambat, semoga bisa membuatmu mencipta lengkung di bibir indahmu, ya.

(325) Kegiatan RTSM

Sumpah, kalau sudah seperti ini jadi pengen beli mobil. Masa' hujan seharian, mobilitas jadi terbatas. Maklum, kendaraannya masih yang roda dua, hahaha. Tapi, masih bersyukur karena nggak kesulitan juga sih kemana-mana meski naik motor.

Eniwey, ini juga berhubungan dengan kegiatan RTSM alias Rumah Tangga Sangat Miskin. Nah, kegiatannya itu namanya Jalin Kesra atau Jalan Lain Mencapai Keluarga Sejahtera. Pembagian bantuan barang-barang dagangan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin. Meski nggak langsung ketahuan hasilnya, tapi paling nggak ini adalah langkah awal untuk menuju kehidupan yang layak. Amin.
Nah, hujan yang biasanya adalah kesukaan saya, hari justru menjadi hal yang kurang saya harapkan. Masalahnya, saya harus bolak-balik ke tempat ini, ke tempat itu, padahal saya cuma punya motor, jadinya ya agak kehujanan gitu. Saya sih, cuma menanamkan sugesti bahwa kehujanan tidak akan membuat saya flu. Karena masih banyak pekerjaan yang mengantri di belakang.

Fiuufh, semoga sehat selalu deh. Niat baik, pasti Allah juga kasih yang baik. Begitupun dengan perlindungan-Nya. Amin :D

First meet

Pertemuan pertama di saat jam makan siang. Lelaki itu datang dengan wajah berseri. Tubuhnya tinggi tegap, sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, badannya juga proporsional. Menyelami beberapa orang yang ada di warung makan itu, yang kebetulan memang (mungkin) dia kenal. Setelah itu langsung menuju meja perempuan berjilbab itu. 
Mereka saling bersalaman, dan saling menyebutkan nama. Wajahnya tak pernah lepas dari senyum. Sejuk sekali. Begitupun dengan sang perempuan. Cara bicaranya juga menyenangkan. Entah apa karena awal pertemuan, atau memang begitu sifatnya. 
Lelaki itu, awalnya dikenalkan oleh teman kerja sang perempuan sebagai keponakannya. Seharusnya mereka bertemu jauh sebelum hari ini, bahkan sebelum lelaki itu berangkat umroh. Namun, mungkin Sang Maha Hidup mempunyai rencana yang lebih indah, hingga mempertemukan mereka hari ini. 
Percakapan terjadi, diiringi oleh tegukan kopi yang hangat. Tidak tahu karena kafein yang ada dalam kopi atau tatapan yang meneduhkan, membuat keduanya tetap semangat, meski waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Jam tidur siang. 
Akan jadi apa selanjutnya pertemuan itu, hanya Tuhan Sang Maha Berkehendak yang tahu. Sang perempuan tak lagi mampu berharap yang terlampu jauh dan tinggi. Pun belum ada rasa yang muncul memang dalam hatinya untuk lelaki di hadapannya ini. Perasaan si lelaki-pun tak jauh beda. Kalaupun tidak bisa menjadi jodoh, maka sahabat akan dipilih sebagai nama lain dari hubungan ini. 

(324) Ribet akut.. Kelabakan tingkat dewa

Saya merasakannya sejak sebulan yang lalu. Entah kenapa tiba-tiba saja pekerjaan langsung permisi masuk. Ibu bilang, ya memang sudah waktunya itu. Iya juga mungkin ya?
Mulai dari kegiatan bimbingan teknik dan temu kelompok bagi IKM - industri kecil menengah, kemudian ada program gerbangmas, pasar lelang, pengawasan peredaran barang/jasa, sampai yang hari ini kegiatan HKP alias Hari Krida Pertanian. Pertanian yang punya gawe, disperindag yang ikut ribet. Hadeehh!!
 
Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah meskipun kerjanya sampai begitu, tubuhku seakan tidak merasakan lelah atau capek. Kayak mati rasa begitu.(,--)
 
Apakah karena saya menikmati?? 
 
Keribetan yang luar biasa membuat pikiran saya teralih sejenak. Dan itu menyenangkan-setidaknya untuk kali ini. Fiuufh,,, semoga tidak selamanya pikiran saya teralih, karena masih ada satu pikiran yang harus saya prioritaskan. 
 
 

Senin, Juli 16, 2012

(323) Backpacker dimulai!!!

Entah apa yang mendasari kok tiba-tiba saya ingin bepergian, ya? Travelling gitu sebagai backpacker (bekpeker.com). Dan yang namanya bekpeker, ya berpetualang ala kadarnya begitu. Bawa ransel, pake pakaian paling nyaman tapi sopan (ga mungkin pakai piyama, kan meskipun itu pakaian paling nyaman se-jagat raya ^,^), sepatu kets, plus uang seadanya. Yang penting cukup untuk pergi-pulang. Di tempat tujuan, cari cara untuk bisa bertahan, hahaha.

Keputusan saya untuk mulai bekpeker, mekipun tidak ada dasarnya, lahir sejak tanggal 10 Juli 2012. Waktu ulang tahun ibu, pas saya sholat dhuha, tiba-tiba saja muncul ide buat bekpekeran. Pergi jalan-jalan keliling nusantara. Mengabadikannya dalam bentuk gambar maupun tulisan. Mengingat saya punya 60 orang teman yang tersebar di Tanah Air Indonesia. Hahay, warisan dari Shindanshi tahun lalu. Sebuah pendidikan selama 6 bulan di puncak untuk melahirkan seorang konsultan bagi industri kecil menengah. Tujuan tertulisnya sih seperti itu. Kenyataannya malah banyak yang dipindahtugaskan ke dinas/kantor lain. Padahal kan pendidikan itu khusus bagi penyuluh perindustrian dan perdagangan.

Eniwey, lupakan soal itu. Yang pasti saya punya teman-teman di lebih dari 10 tempat, yang (InsyaAllah) siap mengantar saya ke daerah wisata di tempatnya. Amin.
Kendalanya sebenarnya klise sih. Yang pertama dan paling utama adalah ijin dari orang tua. Mengingat saya masih tinggal dengan beliau-beliau. Kalau ijin dari Gusti Allah, kan bisa diminta secara berkala. Dan kalau niatnya baik, yaitu menyambung silahturahmi (dan jalan-jalan) ada 90% kemungkinan di kabulkan. Allah kan suka pada umat-Nya yang mau bersilahturahmui :D
Agak susah juga ketika saya mengajukan keinginan untuk bekpeker. Terutama ijin Ibu. Bisa gawat kalau nggak dapat ijin nih. Banyak alasan yang diutarakan Ibu kenapa tidak setuju dengan keinginan saya. Tapi, setelah adu argumen yang dilakukan beberapa hari, akhirnya saya menang (ini saatnya lagu you are the champion seharusnya terdengar)

Okay, bekpeker sudah resmi saya mulai kemarin, hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012. Tujuan bekpeker pertama ini ternyata adalah Surabaya. Dan cukup sehari saja. Tidak ada tempat istimewa yang saya kunjungi. Tapi, ada seseorang yang istimewa yang saya temui. Saudara dari Jakarta, yang saya kenal setahun yang lalu. 

Dan, ada beberapa tempat yang sudah saya susun untuk rute travelling saya selanjutnya. Makassar, Ambon, Babel, Kepulauan Riau, dan beberapa lagi. Mungkin tidak semuanya tahun ini, karena selain kendala di atas tadi, sebagai pegawai, saya juga harus memperhitungkan masa cuti yang hanya bisa diambil sebanyak 12 hari kotor (artinya belum dipotong dengan libur bersama) Kebanyakan sih orang-orang itu cuti paling lama hanya 7 hari.

Hmm, nggak sabar rasanya jalan-jalan keliling nusantara. Dan seandainya menikah nanti, saya jadi ingin dapat suami yang punya hobi sama dengan saya. Travelling. Bayangkan betapa romantisnya jalan2 berdua. Hahaha...#khayalan tingkat tinggi.

Tapi, dari itu semua, semoga Allah mempermudah dan memberikan kelancaran bagi saya untuk menjadi bekpeker sejati. Amin... Nusantara!!! I'm coming!!!

Sabtu, Juli 14, 2012

Balasan Allah Yang Maha Luar Biasa

Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, 
maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat.
Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kejahatan, 
maka tiadalah ia dibalasi, melainkan dengan seumpamanya
sedang mereka itu tiada teraniaya.
(Q.S. Al-An’am : 160)

Sebenarnya cerita ini masih seputar pertemuanku dengan Acha. Bahkan berkaitan dengan sehari sebelum pertemuan itu. Saya menceritakan ini bukan untuk menyombongkan diri, hanya ingin berbagi bahwa Allah Maha Pemurah. 
Sehari sebelum berangkat ke Surabaya, saya pergi jalan-jalan untuk beli jilbab. Seharusnya saya keluar sama Ibu, tapi karena ketiduran, Ibu berangkat jalan-jalan sendirian. Setengah jam setelah ibu berangkat, saya bangun, mandi lalu minta ijin sama Bapak untuk keluar beli jilbab.

Sebelum menuju ke toko jilbab langganan, saya mampir-mampir dulu ke beberapa toko untuk melihat-lihat. Siapa tahu ada yang cocok. Tapi, mungkin niat belanja sedang turun, makanya tidak ada satupun barang yang menarik perhatian saya. Alhasil saya beranjak dari toko ke toko tanpa hasil apa-apa.
Puas melihat-lihat, saya kemudian meluncur ke toko tujuan saya. Tidak disangka di sana saya bertemu dengan Ibu yang juga sedang mencari jilbab. Timbang menimbang, pilih-pilih, akhirnya Ibu dan saya mendapatkan jilbab yang kami harapkan. Inisiatif, saya membayarkan jilbab ibu. Berharap ibu senang dengan pemberian saya. 

Esok hari saya berangkat ke Surabaya pukul setengah lima. Di terminal bertemu dengan Mbak Dina dan suaminya, mas Heru. Mbak Dina adalah teman yang saya kenal sewaktu tes kesehatan dan diklat. Bis yang kami tumpangi ini, karcisnya Mas Heru yang bayar. Ketika saya mau ganti ongkosnya ke Mas Heru lewat Mbak Dina, mereka menolak. Wah, terima kasih sekali. Kami berpisah di pintu tol, karena mereka mau meneruskan perjalanan ke Sidoarjo.

Sampai di terminal Bungurasih, saya mencari bis kota jurusan perak yang lewat bawah. Karena jurusan itu nanti yang melewati JW Marriot, tempat Acha menginap. Di tengah perjalanan, ada ibu tua yang naik. Saya lihat semua kursi sudah penuh, maka dengan senyum saya berikan kursi saya pada beliau. Terima kasih, katanya. Iya bu sama-sama, jawab saya. Ketika kondektur itu menarik karcis, ibu tua itu langsung membayari saya. Sebagai ganti kursi, jangan ditolak, katanya. Makanya saya cuma bisa bilang terima kasih.

Sampai di Marriot, sudah istirahat sebentar, saya dan Acha beserta teman-temannya makan di Pecel Madiun Bu Rudy yang terkenal. Yang bayarpun teman Acha. Begitu juga ketika balik ke Bungurasih setelah mengantar Acha dan temannya ke bandara. Mobil hotel itu berkenan mengantarkan saya ke terminal. 

Di terminal, saya bertemu dengan Asepta, teman sekolah dulu, yang sekarang bekerja di salah satu surat kabar Surabaya. Kami berbincang banyak sepanjang perjalanan. Saya banyak belajar dari dia tentang proses sebuah surat kabar, dari mulai 'janin' hingga 'terlahir' sampai bagaimana menulis itu seharusnya. Dan dia juga yang membayari saya ongkos pulang.^,^

Kalau dipikir-pikir, saya sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk perjalanan ini. Subhanallah. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Apakah karena saya membelikan ibu jilbab? Ataukah niatan saya untuk menjalin silahturahmi dan tulus ingin bertemu dengan saudara saya?
Entahlah... 

Yang jelas, Alhamdulillah sekali. Apakah Allah membalas amalan saya atau merestui perjalanan saya, yang pasti sepanjang perjalanan saya bersyukur tiada henti. Balasan yang Allah kasih, benar-benar tak terduga dan luar biasa. >,<